Kemacetan Lalulintas di Indonesia (2)

macet jakarta
Gambaran Kemacetan Jakarta (sumber: okezone.com)

Dalam berbagai tulisan artikel, paper, konferensi maupun seminar-seminar yang bertema lalulintas lainnya, faktor manusia berpengaruh dominan terhadap semua masalah lalulintas, baik masalah kecelakaan lalu lintas maupun kemacetan lalulintas. Namun, tentu juga diketahui bahwa Perbedaan reaksi dan konsentrasi (perilaku) pada saat berlalulintas sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik, psykologi, umur, pengetahuan, jenis kelamin dan faktor luar seperti cuaca, kondisi jalan dan bangunan pendukungnya, serta tata ruang, (wikipedia.org).

Perilaku manusia sebagai komponen utama dapat diartikan sebagai sekumpulan tindakan yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi dan genetika, (www.wikipedia.org). perilaku itu sendiri dikatakan wajar, dapat diterima, aneh dan menyimpang, diukur relative terhadap norma social. Benyamin Bloom seorang psokolog pendidikan membedakan adanya tiga bidang perilaku, yakni koognitif, afektif dan psokomotorik yang dalam bahasa sederhana kemudian diklasisikasikan dalam tiga tingkatan yaitu, pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan tindakan atau praktik (practice).

Dengan demikian, judgment bahwa permasalahan lalu lintas di jalan raya akibat pengaruh dominan human error bisa dipahami, manakala kita berbicara akar dari persoalan berdasarkan dari tiga komponen (user, sarana dan prasarana) secara menyeluruh menjadi satu kesatuan. Namun kesimpulan bahwa kesalahan manusia tidak dapat diterima apabila human factor hanya ditempatkan pada satu komponen saja yaitu user. Bukankah laik tidaknya kendaraan untuk dapat beroperasi juga dikendalikan oleh manusia? Bukankah maksimal tidaknya fungsi jalan dan pelengkapnya sebagai prasarana akan tergantung kualitas teknis yang notabene dibentuk oleh manusia?. Jadi pernyataan bahwa faktor manusialah sebagai user yang punya determinasi besar tidak bisa serta-merta menjadi kesimpulan akhir dalam persoalan ini. Untuk mendapatkan diagnosa yang tepat, mari kita (pembuat kebijakan, akademisi, pemerhati, regulator) melakukan analisis benar serta jujur terhadap masalah ini.

Terkait dengan masalah kemacetan dan kecelakaan lalulintas di jalan, maka dapat dikatakan bahwa perilaku manusia dalam melakukan kegiatan berlalulintas sangat ditentukan oleh tingkat pengetahuan personal traffic user tersebut dan juga kemampuan norma social (rambu-rambu) sebagai social control dan perlengkapan jalan lainnya dapat mengarahkan perilaku manusia sebagai pengguna. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah pengetahuan manusianya yang tidak mampu memahami norma (rambu-rambu) yang ada ataukah minimnya kuantitas dan kualitas  norma yang ada untuk mampu mengarahkan manusia untuk berperilaku dapat diterima dan mengontrol manusia untuk tidak menyimpang dari norma-norma sosial tersebut.

Makassar, 27/2/2016

 

One thought on “Kemacetan Lalulintas di Indonesia (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.