Memahami Ilmu Pengetahuan

IMG_20160319_140745-1
Sumber: twitter.com

Bangsa kita ini dihadapkan pada persoalan rendahnya kualitas lulusan perguruan tinggi, dimana terjadi penumpukan alumni yang tidak siap kerja. Secara geografis terjadi perbedaan kualitas pendidikan yang mencolok antara barat dan timur Indonesia. Yang teramat mendasar seolah terjadi perbedaan yang mencolok antara teori yang dipelajari di sekolah dengan apa yang dihadapi di dunia kerja. Sepertinya kampus (tempat kita belajar) dengan kerja tempat kita mengaplikasikan ilmu kita adalah “dua dunia yang berbeda”. Dalam tataran lain, bagaimana proses belajar ini sendiri tidak mampu memperbaiki pemahaman dan karakter diri kita. Inilah yang dikatakan WS Rendra bahwa, salah satu bukti kegagalan kita belajar adalah manakala teori dan terapan seperti berada pada dunia yang berbeda.

Dasar dari semua persoalan ini adalah tujuan belajar dan metode belajar kita selama ini memang tidaklah pas. Jika selama ini kita mengartikan belajar sebagai “proses dari tidak tahu menjadi tahu” tanpa adanya proses perbaikan pemahaman dan karakter, disanalah letak ketidak tuntasan kita belajar. Thursan Hakim dalam  bukunya  Belajar  Secara  Efektif,  memberi petunjuk bahwa belajar  adalah  suatu proses  perubahan  di  dalam  kepribadian  manusia,  dan  perubahan  tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas diri seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya fikir, dan lain-lain kemampuannya (Pupuh dan Sobari, 2009).

Proses belajar pada prinsipnya mirip dengan melakukan proses perjalanan, terlebih dahulu kita harus tahu kemana tujuan, baru kemudian mencari tahu cara atau jalannya. Dalam konsep piramida terbalik, ilmu pengetahuan seharusnya dilihat dulu secara utuh, (secara sederhana atau umum) baru kemudian mencari tahu cara rinci menuju satu-kesatuan pengetahuan tersebut. Sebaliknya itu yang terjadi dari proses belajar kita selama ini. Kita dihadapkan pada teori-teori rumit, rumus persamaan matematis (eksakt) yang tanpa lebih dahulu kita tahu apa tujuan kita mempelajari itu semua. Sehingga yang terjadi kemuadian adalah apa yang dikatakan Albert Einstein; bukti ketidak pahaman kita manakala kita tak mampu menjelaskan suatu hal yang rumit (teori dan persamaan matematis) menjadi bahasa sederhana yang mudah dipahami.

Stigma yang muncul kemudian adalah pelajaran eksakta seperti menjadi sesuatu yang sulit dipahami dan menakutkan, sehingga pelajaran noneksakta menjadi alternatif pelarian. Yang terjadi selanjutnya kedua bidang ilmu tersebut seperti berdiri sendiri, tidak satu-kesatuan yang saling mendukung, terjadi pengkotak-kotakan keilmuan yang masif. Ilmuan eksakt seolah-olah punya kebenaran sendiri begitu pula ilmuan noneksakt seolah merasa kebenaran keilmuan mereka seperti tidak ada kaitan dengan keilmuan eksakt. Sehingga pencarian kebenaran ilmiah mentok pada perbedaan stigma tersebut.

Apakah seharusnya memang demikian? Tentu jawabannya adalah tidak. Kedua keilmuan tersebut sungguh merupakan satu-kesatuan yang saling membutuhkan.  Keilmuan eksakt perlu dijabarkan dalam bahasa sederhana yaitu bahasa sosial (noneksakt) agar mudah dipahami dan diaplikasikan. Demikian pula teori sosial dan noneksakt lainnya perlu pengujian melalui bahasa matematis dan grafis (eksakt) untuk menguatkan kebenarannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.