Memahami Kemacetan Lalulintas

Screenshot_2016-06-01-09-14-27-1.png
(Sumber: MKJI 1997)

Jaringan jalan pada dasarnya berfungsi menghubungkan antara satu tempat dengan tempat yang lain, penghubung satu daerah dengan daerah yang lain. Oleh karena itu jalan seharusnya mampu menjalankan fungsinya sebagai penghubung perpindahan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan aman, nyaman serta ekonomis.

Kemacetan lalulintas terutama di kota-kota besar kini menjadi pemandangan tiap saat dan persoalan ini begitu susah diurai. Kebijakan menyangkut problem kemacetan lalulintas seperti tak menyentuh akar masalah, karena sekian lama tetap saja terjadi. Pertumbuhan jumlah kendaraan, kapasitas jalan yang tidak memadai, sering kali menjadi kambing hitam. Walau memang tidak ada salahnya, tapi menempatkan kedua faktor tersebut seharusnya dilakukan dengan kajian mendalam agar tidak menimbulkan multi tafsir. Membendung pertumbuhan kendaraan misalnya, merupakan hal yang teramat sulit dilakukan. Begitu pula dengan membiarkan pemahaman bahwa kapasitas jalan hanya sebatas lebar jalan saja juga tidaklah benar.

Secara teoritis, terjadinya kemacetan lalulintas memang merupakan akibat dari peningkatan rasio volume lalulintas terhadap kapasitas jalan. Namun perlu dipahami bahwa peningkatan jumlah kendaraan itu sendiri memberi andil terhadap peningkatan kapasitas jalan. Pertanyaannya kemudian adalah kapan rasio volume lalulintas dengan kapasitas meningkat?. Dalam bahasa sederhana, kemacetan terjadi manakala volume lalulintas meningkat, tapi tidak diiringi dengan peningkatan kapasitas.

Screenshot_2016-03-15-21-16-00-1
(Sumber: PKJI 2014)

Untuk itu perlu diketahui bahwa kapasitas jalan merupakan besaran volume kendaraan yang dapat melewati suatu titik yang notabene dipengaruhi oleh banyak faktor. Dalam Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 dan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia 2014, menempatkan lima variabel yang berpengaruh pada kapasitas jalan yakni lebar jalur dan bahu jalan, perlengkapan jalan (kreb dan trotoar), hambatan samping, jumlah penduduk, dan aktifitas lingkungan disekitar jalan, serta faktor lain yang sebetulnya perlu menjadi masukan atau koreksi MKJI. Bagaimana misalnya tingkat kerusakan jalan, pola pergerakan kendaraan, perilaku pengguna jalan yang juga mereduksi kapasitas jalan tidak dimasukkan sebagai variabel yang punya pengaruh. Jumlah kendaraan yang besar dan sempitnya jalan bukan menjadi persoalan manakala tidak terjadi hambatan-hambatan yang mengakibatkan penurunan kecepatan.

Oleh sebab itu, kemacetan lalulintas terjadi karena terjadinya penurunan kecepatan arus lalulintas yang diakibatkan oleh adanya hambatan pergerakan arus lalulintas. Entahkah itu faktor fisik badan jalan, tidak maksimalnya fungsi perlengkapan jalan dan juga perilaku seorang pengendara yang mengganggu pengendara lain. Artinya bahwa manajemen terhadap lalulintas serta pengaturan kegiatan disekitar lingkungan jalan menjadi kunci dalam mengatasi soal kemacetan. Jadi, ukuran lebar jalan memang determinasi, tapi yang tak kalah pentingnya adalah behavior management, pengaturan perilaku manusia di jalan dan di sekitar jalan dengan cara memaksimalkan fungsi jalan, perlengkapan jalan, serta tataguna lahan sehingga tidak menjadi penyebab terjadinya hambatan pergerakan arus lalulintas.

Sekian!
Ahdan
Kolaka, 30 Mei 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.