Asa Yang Tersisa

IMG_20160226_101333-1
Kostum Pembawa Pesan (Sumber Foto: twitter.com)

Penantian itu telah berujung, sejenak kusimak kata demi kata, kalimat demi kalimat dari kawan di ujung telepon. “Bro, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, entah kita atau salah satu dari kita ada di dalamnya, mari mensyukurinya”. Dia memintaku mengecek pengumuman hasil seleksi CPNS pada unit kerja yang kulamar. Memang kami berbeda unit kerja tempat mendaftar. Saya di sebuah Politeknik yang lumayan tersohor untuk ukuran Indonesia timur, sedangkan dia di Kopertis wilayah IX kota yang sama denganku. Kami memilih tempat berbeda dengan harapan memperbesar peluang, dengan harapan kami bisa masuk dua-duanya.

Dengan skor Tes Kompetensi Dasar (TKD) 320 poin pada tahap sebelumya, saya melenggang mulus ke seleksi admistrasi dan selanjutnya ke Tes Kompetensi Bidang (TKB). TKB nya sendiri berlangsung tiga hari dengan lima jenis tes (akademik, micro teaching, kemanpuan komputer, TOEFL dan wawancara). Dari beberapa institusi yang saya tau melakukan seleksi yang sama, di tempat itulah pemecah rekor untuk jumlah dan lama prosesinya. Konon, ini dilakukan agar yang tersaring sebagai dosen nantinya adalah orang-orang yang punya kapasitas dan kapabilitas.

Deg degan rasanya, was-was, antara berani dengan tidak bercampur jadi satu. Kupaksakan jemari menekan mouse pada sebuah situs padat pengunjung. Situs lembaga kementerian pendidikan dan kebudayaan yang belakangan berubah induk kemristek dikti. Nama yang kucari tidak ada di dalam sana, hanya ada dua nama teman sealmamater yang kebetulan jadi rival saat proses seleksi. Beberapa saat kemudian, si kawan pemberi kabar tadi menelepon memberi tahu kabar yang serupa tentang dirinya. Mungkin ingin berbagi duka, atau sekedar menguatkan, bahwa bukan cuma saya yang mengalaminya.

Kenyataan yang sungguh menyesakkan dada. Mukaku tak sanggup kutengadahkan, lesu tertunduk tak ingin menampakkan wajah suram. Kegagalan yang kedua pada formasi yang sama berulang seakan tak bosan. Kegagalan yang seolah langganan pada diri yang tak bisa berbuat apa-apa. Saya larut dalam rasa terpuruk, dalam fikir yang tak jelas arahnya. Angan dan harapan jelas tersaji tak sesuai kenyataan. Harus bagaimana ini? Tanyaku di ujung ratapan. Apakah perjuanganku belum cukup? Ataukah memang keberhasilam itu tak pantas untukku? “Oh..Tuhan begitu tak adil” benakku berbisik lirih di ujung tanyaku.

Berbagai penjelasan mereka lontarkan seakan membela diri. “Ijazah strata satu dan magistermu tidak linier de'” kata kakak senior menjelaskan. “Lalu kenapa bisa lolos administrasi kalau memang tidak linier? Kenapa saya mesti bersusah payah ikut tes TKB? Apakah indikatornya bukan hasil ujian TKB itu? Bukankah hasil ujianku bukan yang terburuk dari yang lain?” pertanyaanku beruntun menimpali penjelasan kakak tadi. “Itulah kebijakan internal di kampus kami, dan itu sudah kesepakatan bersama. Saya pun tidak bisa berbuat apa-apa de, mohon maaf!” Hanya bisa terdiam mendengar penjelasan kakak tadi. Terlihat rasa iba dan penyesalan di wajahnya yang berbalut kerudung. Sepertinya saya bukanlah selera mereka “si empunya” kampus, gerutuku dalam hati.

Nyata sudah, usaha tidaklah cukup. Aturan begitu gampang bisa diatur. Ingin rasanya komplain pada si pembuat keputusan, bahwa ini ketidak adilan, ini kesewenang wenangan yang terorganisir. Tapi lagi-lagi kuurung, habis sudah dayaku, rasanya semua tidak ada gunanya. Dan, Tuhan pun tak mampu berbuat apa-apa sepertinya.

Tuhan, hamba iri pada mereka yang beruntung. Kalaulah boleh, saya ingin marah pada nasib, ingin protes pada ketentuanMu. Keyakinanku kini pudar oleh realitas. Kepercayaan diriku luluh lantak oleh kenyataan. Tuhan, lagi dan lagi Engkau memilih yang lain, entah karena apa. Tuhan, maafkan hamba atas prasangka burukku kepadaMu.

Makassar, 25 maret 2015
@ahdan_a

2 thoughts on “Asa Yang Tersisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.