Kita dan Kekhilafan

Screenshot_2016-08-05-11-13-02-1
Iwan Fals (Foto: google.com)

“Tak terasa seminggu, alangkah cepatnya waktu. Tak terasa seminggu, rakus kulumat bibirmu. Tak terasa seminggu, tak bosan kau minta itu” – Iwan Fals.

Lagu sang legend mengalun samar mengiringi perbincangan kita saat itu. Sepertinya, lama sudah kita kurang tidur, namun begitu singkat untuk sekadar menarik sebuah simpulan. Rasanya waktu begitu sempit, untuk sebatas mendefenisikan makna akan nilai. Tak ada keyakinan bahwa kita masing masing mencari makna. Apakah kita saling mengukur diri? Entahlah, namun benar kelirunya kita, mari introspeksi seksama bersama. Wajibkah? Mungkin saja iya bagimu, tapi tidaklah harus menurutku.

Cerita ke cerita mengalirkan begitu banyak kisahmu, demikian denganku akan pengalaman dan khayalku. Kau bertingkah mengikuti hasrat inginmu, akupun begitu dengan semua keanehan dan dorongan imajiku. Yah.. kita tentu berhak terhibur dikala cerita asyik menghibur. Rasanya kita punya hak marah dan jengkel, manakala laku tak lagi dapat diterima akal sehat. Maaf, kuharus memohon itu jikalau semua itu tak berkenang.

Tapi apakah kau benar marah? Jelas tak bisa kupastikan, karena raut tak sedikit pun memberi tanda akan itu. Barangkali itu terlalu sepele untuk marah dan memberontak. Ataukah memang kau membutuhkannya sebagaimana aku? Disela diammu yang kau siasati, kau seakan mengerti akan harap yang terucap. Itulah cara khilaf kita mengabaikan idealisme kebenaran yang dulu sering kita dengungkan.

Kubertanya pada rasa sesal, pernahkah sedetik saja “dia” hadir? Agak aneh jika iya, tapi rasanya sinting bila tidak. Tapi, pantang kiranya kata itu terucap, karena semua terjadi penuh “sadar”. Inilah sisi lain dari kita dan kehidupan, kita yang seolah “putih” belum tentu selamanya baik, kita yang kini “kelam” tidaklah selalu buruk adanya. Nurani dan nalar pun seperti bimbang memposisikan diri, namun seolah ia tak pernah alfa menawarkan pembenaran pada suatu hal yang kadang keliru.

Biarlah malam itu merangkum cerita dan laku kita. Mari belajar memahaminya dengan baik, bukan sekadar mencari kata sepakat yang tak ada guna, tapi demi sesuatu, agar kita paham bahwa sesungguhnya kita tidak paham apa-apa.

Makassar, 27 Desember 2015

One thought on “Kita dan Kekhilafan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.