Kala Kita Mendefinisikan Tuhan

IMG_20160302_131933-1
Renungan (Gambar: twitter.com)

Tak ada niat untuk mengajari ikan berenang, sama sekali tak ada maksud menggarami lautan. namun, diskusi kita hari ini menggugah nalar ini untuk sedikit memberi tanggapan. Di rumahmu yang bermotif ijo itu, seolah kau ingin mengajariku tentang kebenaran, tentang bagaimana berislam. Wajar memang, latarbelakang pendidikan pesantren mungkin cukup jadi bekal untuk ceramah singkatmu sore ini. Dengan didikan sejak kecil dari keluarga agamis, wajar kalau kau begitu percaya diri, semoga saja itu bukan karena angkuhnya ego.

Dari apa yang kau paparkan, dari semua isi kitab ini dan itu yang mungkin saja cuma kau hafal. Tentu ini bisa menjadi cambuk bagiku, dan saya kira sudah itu niatanmu. Namun dilain sisi, saya begitu khawatir, jangan sampai apa yang telah kau sampaikan menjadi boomerang bagimu. Takkala teringat apa yang telah kita lewati beberapa tahun terakhir ini. Rasanya sangat memalukan menduduk sejajarkan kelakuan kita itu dengan apa yang kau lisankan. Bukankah yang benar itu takkala hati, ucapan dan perbuatan se iya sekata? Ataukah kebenaran yang kita gaungkan hanya komsumsi lidah semata? Tapi rasanya belum pernah kutemukan dalil yang mengiyakannya.

Saya terlalu dangkal bahkan tidak tau banyak isi kitab-kitab itu, tapi mungkin perlu kita ingat bersama, bahwa nabi utusan Tuhan itu ada sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan pastinya untuk memperbaiki akhlak umatNya kan. Dan kalau akidah seolah sebatas hubungan manusia dengan Tuhannya. Lalu bagaimana perihal interaksi kita dengan manusia lain beserta alamnya? Bukankah keyakinan yang sama kita anut ini bertujuan untuk membenahi ketiganya?

Kecintaan pada suatu hal dan kemudian menghianati hal lain, sama sekali bukan cerminan kesadaran akan kebenaran yang kita bicarakan. Saya masih saja sangsi, jangan sampai kita hanya sibuk membenahi sorban kerudung syar’i kita dan tetap membiarkan bokong (maaf) tetap telanjang dengan angkuhnya. Sudah terlalu sering kita jual nama agungNya hanya untuk sebagai topeng agar kita kelihatan pengikut setiaNya. Kekhawatiran ini teramat besar, jangan-jangan materi dan moleknya dunia sudah menjadi Tuhan kita sesungguhnya.

Tak layak rasanya mengguruimu, apalagi untuk menjudge bahwa kau keliru dan mengklaim kebenaranku. Tidak, saya hanya berharap supaya kita bersama-sama memcoba paham bahwa kata “taubat” yang sedari tadi kau ulang-ulang tidak boleh hanya permohonan ampunan semata. Saya tidak begitu tau bagaimana rupa “taubatannasuha” itu, tapi menurutku kesadaran yang sebenar-benarnya itu dari hati, diucapkan lidah dan aplikatif pada ranah perbuatan keseharian. Kebenaran tidaklah mengawan-awan, kebenaran wajib membumi untuk menegaskan bahwa dia nyata adanya.

Untuk itu, tidaklah perlu kiranya mengurung diri pada penyesalan yang terlalu dalam. Tidak juga elok membuat kamuflase apalagi untuk mencari pembenaran pada apa yang telah terlanjur salah, jangan sampai itu semua malah semakin membawa kita pada kesesatan yang semakin jauh. Biarlah kekeliruan itu menemukan jati dirinya. Apa yang menjadi dosa-dosa masalalu kita, tidaklah perlu disesali hematku, barangkali itu sudah jalan yang digariskan olehNya, jalan menuju kebenaran hakikiNya.

Sekian!
Maradda, 9 Agustus 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.