Kita dan Karl Marx

Screenshot_2016-08-14-19-46-35-1
Karl Heinrich Marx (Gambar: Google.com)

“Magnum Opus Das Kapital” begitulah Karl Marx mengabadikan konsep kapitalismenya, tentang “cara produksi kapitalis” dengan menggunakan metode pemahaman yang sekarang dikenal sebagai Marxisme. Ajaran Marxisme tentu tidak sesimpel paparan tadi. Tapi sebagaimana Einstein pernah berpesan, “tak kala kita tidak bisa melihat sesuatu yang rumit menjadi lebih sederhana, maka di sanalah kita berada pada posisi tak akan paham apa-apa akan sesuatu itu”.

Tentu saja sangat tidak evel to evel membandingkan nama besar Karl Marx dengan kita dalam makna jamak. Catatan ini juga bermaksud “mencolek” mereka yang berada di posisi gamang, mereka yang ngakunya pancasilais, agamis, anti marxisme, anti kapitalisme, tapi juga sekaligus anti sosialis. Namun, kalaulah boleh, mari melihat teori-teori itu melalui perspektif mata elang kita, dengan cara lebih sederhana, sebagai upaya mencari titik temu antara pemahaman dengan tindakan nyata kita. Sebagai bentuk kesadaran bahwa konsep tidaklah bebeda dunia dengan kenyataan sebagaimana adanya.

Bagaimana misalnya Galileo Galilei yang membuat riak kecil pencarian kebenaran yang kemudian berbenturan dengan kepercayaan keagamaan Barat. Sejarah gelap seperti itulah yang kemudian memantapkan bangsa Barat untuk memalingkan diri dari kepercayaan agama dan mengarahkan pandangannya kepada sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan sosial. Agama hanya sekadar ajaran ritual, agama hanya hadir di tempat tempat ibadah saja.

Pemandangan tiap harinya menyuguhkan, bagaimana mall-mall dan pusat pertokoan penuh sesak oleh orang-orang untuk sekedar melampiaskan nafsu belanjanya yang mungkin saja jauh dari kata butuh. Tak jarang kita menyaksikan atrian panjang di toko-toko smarphone, di showroom-showroom mobil dan lainnya, walau itu hanya untuk membayar gengsi pada dagangan para peramu iklan.

Kalau paham kapitalis dapat diartikan sebagai buah pemikiran manusia tentang apa saja yang berorientasi pada kapital (modal, materi) dan mempersilahkan sebebas bebasnya para pemilik kapital untuk melipat gandakan kapitalnya tersebut sebanyak yang ia inginkan, bukannya paham itulah sesungguhnya yang menjiwai kita sekarang ini?

Sudah sejak lama Karl Marx mewanti-wanti kita para manusia bermental pekerja, bahwa cucuran keringat untuk menghasilkan materi, kekayaan, tanpa disadari hanya buat memperkaya para pemilik modal sekaligus memproduksi kesengsaraan diri sendiri karena kerja mereka teralienasi (terasing). Oleh sebab itu, masihkah kita malu mengakui bahwa sebenarnya kita butuh Karl Maks dan bukan malah anti? Atau apakah memang yang kita kicaukan selama ini adalah wujud nyata penyakit latah kita yang lagi akut-akutnya?

Untuk itu, kalau memang kita tidak bisa mengikuti jejak Mark Boyle yang sama sekali tidak mau didikte mata uang, atau hanya malu dicap penganut paham kapitalisme dan materialisme padahal itulah kenyataannya. Setidaknya marilah kita membersihkan sedikit kepongahan kita yang seolah anti paham barat, yang di sisi lain malah mempertegas bahwa sesungguhnya kita tidaklah tidak tau apa-apa soal itu semua.

Makassar, 14/8/2016

4 thoughts on “Kita dan Karl Marx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.