Materialisme dan Nasionalisme Musiman

Screenshot_2016-08-17-01-56-27-1
Nasionalisme Musiman (Gambar: Google.com)

Sebagaimana defenisinya, materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Kata lainya, hal dapat dikatakan benar-benar ada apabila hal tersebut nyata atau menempati ruang dan memiliki massa.

Ludwig Feuerbach, filsuf Jerman serta mereka yang menganut dan mendukung paham materialisme ini tentu saja tidak mengakui kebenaran sesuatu yang abstrak non materil. Alam gaib, hantu dan lain sebagainya yang tidak tampak nyata tentu saja tidak dianggap ada menurut penganut paham ini. Nah, bagaimana dengan kita bangsa Indonesia yang beketuhanan yang maha esa ini? Apakah kita berada diposisi itu atau tidak? Untuk menjawabnya, mari kita liat beberapa fenomena yang terjadi.

Kemacetan lalulintas yang masih menjadi persoalan sebagai contoh, solusi persoalan kemacetan yang seharusnya diarahkan pada aspek manajemen lalulintas untuk jangka pendek, pendidikan dan pembenahan mentalitas serta perilaku berlalulintas untuk jangka panjang, malah digiring pada penyelesaian yang sifatnya fisik (materil). Bagaimana opini publik disesatkan dengan mengatakan bahwa kapasitas jalan adalah terkait lebarnya jalan saja dan mengesampingkan faktor non fisik.

Masih hangat diperbincangkan bagaimana Gloria Natapraja Hamel, seorang anak muda belia harus mengubur impiannya menjadi pasukan pengibar bendera hanya karena memiliki paspor prancis dan dianggap bermasalah dengan kewarga negaraan. Hal yang sama dengan seorang Archandra Tahar alumni ITB dengan segudang prestasi akademik dan praktis, anak bangsa pemilik enam paten di luar negeri, harus mengikhlaskan jabatannya sebagai menteri ESDM yang belum juga ditunaikan hanya karena kepemilikan pasport ganda.

Bukan karena keterbatasan pegetahuan apalagi ingin subjektif tentang keduanya, tapi sepertinya tak ada lagi kata yang tepat untuk mempertanyakan nasioanalisme dan kecintaan kedua anak bangsa tersebut pada negaranya. Keinginan untuk mengabdi untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta harus pupus hanya karena terbentur aturan yang sepertinya belum juga selesai diperdebatkan.

Kalau dulu, dengan mudahnya kita menaturalisasi pemain timnas sepak bola, tapi mengapa menjadi begitu sulit untuk Gloria dan Archandra? Atau jangan-jangan karena pesepak bola bisa menyematkan nama besar, trofi dan kepingan medali sementara si anak paskibra dan akademisi itu cuma bermodalkan pengabdian dan cinta pada bangsanya.

Dari situ, bertepatan dengan perayaan hari kemerdekaan negara republik Indonesia tercinta yang serba seremoni, mari kiranya untuk mempertanyakan bagaimana rupa makna sebenarnya nasionalisme kini, lalu kemudian menyandingkanya dengan paham materialisme yang  kita anti itu. Jangan sampai, tanpa disadari sesungguhnya kita adalah materialis sejati dengan nasionalisme yang penuh tanda tanya.

Makassar, 17/8/2016 (Dini hari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.