Topeng Wajah Tuhan

screenshot_2016-09-05-13-01-53-1

“Ada semacam kekecewaan dan kesedihan ketika kau menyebutku ‘kafir’. Kesedihan itu bukan karena aku merasa terhina dengan sebutan ‘kafir’ tersebut, aku sama sekali tidak merasa terhina dengan kata tersebut. Kesedihan itu muncul karena kau sudah membuat batas dengan diriku, padahal aku tidak pernah membuat batas dengan siapa pun,  ketahuilah bahwa persaudaraan sejati tidaklah mengenal batas. Tapi tak mengapa saudaraku, aku selalu menganggapmu saudara sekalipun kau mengganggap aku kasta terendah yang ada di muka bumi ini”

Saya yakin betul kalau ungkapan tersebut bukanlah buah dari satu dua kejadian. Kutipan tadi adalah ungkapan kesedihan seorang kawan yang tidaklah punya banyak pembeda dengan kita. Yang mungkin berbeda adalah hanya kejelian dan sikap kritisnya menanggapi fenomena ‘aneh’ yang marak dia saksikan di sekitarnya. Fenomena yang mana munculnya segolongan orang yang tak mampu menerima perbedaan itu sendiri.

Sejalan dengan ungkapan kesedihan teman tadi, Professor Hamid Algar pernah me­nyatakan dalam tinjauannya yang sangat kritis bahwa belakangan ini ia makin meng­apresiasi tinggi “keragaman kebudayaan Islam yang luar biasa kaya dan ekspresi yang amat berwarna dari Islam sebagai sebuah agama”. Dan mungkin karena alasan itulah mengapa kemudian beliau begitu gusar dengan segolongan orang yang hendak menyeragamkan pemahamannya dan mengu­burkan keragaman ekspresi budayanya.

Sikap kritis bukanlah hal yang tabu, bahkan layak selalu ada. Penting disadari, bersikap kritis tidaklah sama dengan bersikap tidak objektif. Sikap yang tidak objektif, adalah sikap yang dicirikan oleh keinginan untuk menutup-nutupi fakta, atau keinginan untuk tidak mengungkap fakta apa adanya, termasuk kesengajaan untuk tidak meng­ungkap fakta selengkap-lengkapnya. Bersikap kritis tidak harus bertentangan dengan bersikap objektif. Bahkan, sikap kritis yang sesungguhnya hanya dapat dilakukan jika kita bersedia berlaku objektif, sebab hanya di atas objektivitaslah kri­tisisme yang tangguh bisa kebenaran diberikan.

Fakta sejarah manusia menunjukkan adanya berbagai perkembangan pemikiran. Pemikiran apa pun, termasuk keagamaan, dipengaruhi oleh banyak faktor. Bermacam-macam faktor itu bisa berupa perkembangan ilmu, kemaslahatan, misi, kecenderungan (orientasi) seseorang, dan sebagainya. Perbedaan paham akibat dari perkembangan pemikiran tersebut sesungguhnya adalah anugrah kekayaan peradaban dan bukti kebesaran Tuhan tentunya. Perbedaan paham tersebut pada prinsipnya bukanlah masalah, yang jadi persoalan awal sesungguhnya adalah ketidaktahuan atau ketidakmengertian satu pihak atas dirinya dan pihak lain, mengakibatkan terjadinya penyimpulan dini yang jauh dari hakekat tujuan turunnya pesan kebenaran Tuhan.

Kekhawatiran yang muncul berikutnya akibat kecenderungan gagal paham tersebut adalah masifnya penggunaan simbol-simbol Tuhan yang tidak diragukan lagi kebenarannya, akan tetapi di sisi lain dijadikan sebagai tunggangan oleh orang-orang berwajah malaikat dalam mencapai tujuan kepentingan pribadi. Tak mudah melupakan kasus “sapi” seorang elit partai yang katanya partai daqwah dengan orang-orang religius. Contoh lain yang masih baru dan bahkan sementara viral sehingga agak naif untuk kita lupa pada kasus seorang guru spiritual para publik figur, yang di ujung-ujung ketahuan kelakuan bejatnya.

Kejadian demi kejadian tak pelak membuka mata dan fikiran kita lebar-lebar dengan terpaksa. Bagaimana agama seolah menjadi barang mainan, bahkan hanya jadi topeng pelaris jualan, yang tak lain hanya sebagai alat, kuda tunggangan menuju pencapaian tujuan kepentingan pribadi atau golongan.

Berkaca dari semua itu, sesungguhnya tanpa kita sadari keagungan Tuhan kita kerdilkan, sambil meneriakkan nama besarNya kita telah melakukan penghinaan agama dengan nyata. Adakah kita sudah terjaga dari hal itu? Mari menyadarinya saudaraku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.