Menelanjangi Athirah #1

screenshot_2016-10-22-12-36-52-1
Cut Mini Dalam Film Athirah (Gambar: Google.com)

Judul tulisan ini bukan pada makna sebenarnya pastinya. Athirah, sebagaimana diketahui bersama adalah sebuah film besukan sutradara Muhammad Rivai Riza (Riri Riza) baru-baru ini banyak menjadi buah bibir. Sebuah kisah yang diangkat dari novel biagrafi berjudul Emma yang mengisahkan kegalau seorang Ucu (Jusuf Kalla muda) di tengah konflik batin kedua orang tuanya.

Ucu yang sangat menghormati sosok ayah (Puang Aji) yang dikaguminya, namun setegar-tegarnya anak lelaki, Ucu tentu tak tega melihat ibunya Athira (emma’) seorang diri menghadapi kenyataan hidupnya yang mungkin bagi sebagian orang menganggapnya sebagai “korban” poligami. Dalam lingkup budaya yang memungkinkan ini terjadi dan tanpa ruang bagi perempuan untuk bisa menolak, Athirah bergulat melawan perasaannya demi mempertahankan keutuhan keluarganya.

Terlepas dari kepiawaian Cut Mini Theo dalam memerankan Hajjah Athirah Kalla, Christoffer Nelwan sebagai Ucu/ Jusuf Kalla (remaja) serta pemeran lain dalam cerita itu. Ada hal menarik untuk ditelisik, ada nilai-nilai, prinsip hidup yang layak menjadi renungan, pelajaran hidup sebagai mana salah satu pesan yang ingin disampaikan dalam film ini. Yang mana, sepertinya nilai-nilai luhur semacam itu hampir punah tergerus zaman sekarang ini.

Sosok Athirah dalam kodratnya sebagai perempuan yang masih memegang teguh nilai-nilai ketimuran, masih menganut kentalnya adat yang menjiwai prinsip hidup perempuan bugis. Dulu pada zamannya ibu Athirah apalagi kekinian yang serba modern, tentu sangat sulit mencari satu orang saja perempuan yang mau mengatakan “ya” untuk sepakat berbagi suami (poligami). Namun begitu, apakah sekarang fenomena poligami ini menjadi berkurang jika membandingkan antara dulu dengan sekarang? Tentu jawabannya tidak! Bahkan dalil demi dalil pun dicari-cari untuk membenarkan itu.

Walaupun memang secara statistik perbedaan jumlah  manusia dulu dengan sekarang tidak bisa diabaikan kontribusinya dalam mempengaruhi maraknya hal ini terjadi. Tapi, lagi-lagi kita tak masuk kesana untuk membahas trend tersebut. Hal menarik yang ingin diangkat dalam film ini sesungguhnya adalah bagaimana kesenjangan perbedaan antara perempuan dulu dengan perempuan kini menghadapi persoalan hidup kesehariannya. Bagaimana perempuan mengespresikan, mengaktualisasikan dirinya dalam menghadapi tantangan hidup yang kian beragam.

Modernisasi adalah kata kunci yang sering kali ampuh untuk sebuah argumentasi terkait tergerusnya nilai-nilai luhur yang menjadi prinsip hidup perempuan dulu sebagai mana Ibu Athirah. Namun apakah sosok Athirah adalah sosok perempuan yang belum kebagian frase “emansipasi wanita” pada waktu itu? Lagi-lagi jawabannya “tidak” untuk pertanyaan tersebut.

Melihat bagaimana Athirah bertahan, ambil bagian dalam pemenuhan kebutuhan keluarga dengan berdagang sarung, meskipun di sisi lain terkesan hanya upaya mengalihkan perhatian, energi dan pikirannya dari beban ajibat kodratnya sebagai seorang istri yang harus “berbagi” suami. Akan tetapi, terlepas dari upaya itu, ketangguhan seorang Athirah sebagai perempuan, sebagai istri pendamping suami dalam menopan kebutuhan keluarga malah sangat terlihat bahwa perempuan dulu seperti Athirah pada zamannya bukanlah seorang istri (perempuan) yang hanya semata mengurusi dapur, kasur dan sumur atau dalam bahasa kerennya perempuan yang tidak emansipatif.

Keberhasilan Athirah menjadi sosok yang tangguh dari sudut pandang ekonomi (finansial) maupun sebagai perempuan mandiri secara karakter, kemudian tidak membuatnya lupa bahwa dia tetaplah seorang perempuan yang punya banyak hal tabu yang mesti dijaga. Athirah tetaplah seorang istri yang harus tetap patuh pada suami yang dihormatinya.

Di sini kita tak ingin mengukuhkan bahwa suami adalah sosok dewa yang tak pernah salah dan sama sekali tak boleh dibantah ataupun dikomplain pada saat tertentu. Akan tetapi, bagaimana cara seorang istri bernama Athirah dalam memperlakukan suaminya layak menjadi contoh rujukan.

Membandingkan dengan perempuan kekinian dengan sosok Athirah sepertinya tak ada salahnya. Memang bagaimana pun ruang public di rana nyata maupun maya pasti punya peran besar yang mempengaruhi perempuan kekinian untuk lebih ekspresif, ditambah dengan dalil semangat emansipasi jelas memaksa perempuan kini untuk beda dengan perempuan dulu.

Kalau kita mau sedikit jeli dan jujur, jangankan untuk menghadirkan sosok-sosok Athirah yang pada masa kekinian, menemukan satu orang perempuan saja yang mampu menjaga lisan dan tindakannya sebagaimana seharusnya perempuan seperti sedikit contoh dari ibu Athirah teramat sulitnya. Yang ada malah munculnya perempuan-perempuan “pemberontak” dari kodratnya yang seakan-akan ingin menyamai bahkan melebihi kaum laki-laki seperti Puang Haji Kalla dalam film Athirah. Bagaimana misalnya rentangnya perempuan-perempuan kini dalam membangun komitmen hubungan dengan laki-laki baik sebagai kekasih ataupun pasangan suami istri seperti hanya ajang trial and error (baca: coba-coba). Entah itu terhadap sebuah jalinan yang sakral maupun tidak. Fenomena free sex, selingkuh, gonta-ganti pasangan dan apapun namanya faktanya terbentang jelas dan seolah jadi kebanggan tak mengenal umur dan status sosial adalah tolok ukur nyata.

Dalam bahasa yang lain, majunya peradaban seperti tak mampu mengelakkan kita dari perilaku bermain-main dengan kekhilafan itu. Maka tak salah jika seorang arif nan bijak kemudian mengatakan baahwa pendidikan moral dan agama seolah tidak meninggalkan jejaknya sedikit pun. Itu pilihan orang per orang tentu saja, sebagaimana pertanggungan jawab orang per orang ke Tuhannya kelak. dari itu pilihan penulis pulalah untuk bicara hal yang sama dengan harapan yang teramat sangat besar, semoga saja jiwa Athirah kembali bisa ditemukan pada perempuan-perempuan Indonesia pada masa kini.

Bersambung…

Makassar, 22 Oktober 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.