Menelanjangi Athirah #2

fb_img_1477206633446
Cover Film Athirah (Gambar: posfilm.com)

Zaman terus bergerak, situasi terus berubah, juga interaksi yang semakin terbuka di era teknologi informasi ini. Ide dan gagasan akan sesuatu hal pun akan kian mudah untuk dibagi. Era keterbukaan pulalah yang seakan memaksa kita untuk tak punya ruang lagi untuk berpura-pura menutup mata bahwa masalah penyimpangan sosial, persoalan perempuan ini kita anggap tak ada.

Diangkatnya kembali cerita tentang sosok Emma’ (Ibu) yang bernama Athirah sebagai seorang perempuan, sebagai Ibu yang relatif masih muda, tentu bukan tanpa maksud. Pesan terkait posisi kaum perempuan dalam peradaban umat tidak bisa disepelekan, hingga sangat penting dan amatlah menentukan alasan diangkatnya cerita biografi tersebut sebagai penghantar pesan yang paling efektif.

Untuk jadi bahan telaah, bagaimana misalnya dengan kemaha-kuasaanNya Tuhan kemudian “menempatkan” surga tidak di bawah telapak kaki para ulama, tidak juga di bawah kaki ayah (laki-laki), tidak di bawah kaki pemerintah atau malaikat sekalipun, tapi surga itu berada di bawah kaki kaum Ibu (baca: perempuan). Sehingga tak salah orang pun berani mengatakan bahwa, rusaknya kaum perempuan adalah awal runtuhnya peradaban umat manusia.

Namun, membayangkan era keterbukaan informasi dan komunikasi ada pada zamannya Ibu Athirah, mungkin saja beliau dan juga Ucu tak galau sendirian waktu itu. Kalau saya mungkin juga anda boleh sedikit berfikir liar, apakah Athirah akan setangguh itu untuk bertahan demi keutuhan rumah tangganya dan anak-anaknya jika diposisikan di tengah godaan informasi dari berbagai penjuru seperti sekarang ini, ditambah lagi dengan godaan banyak pria-pria yang gemar memanfaatkan keadaan? Akankah Athirah setegar itu untuk bertahan dan tidak terbuai mencari jalan pintas pelarian untuk menumpahkan rasa prustrasinya, atau dengan alasan cinta dan kenyamanan sebagaimana kita lihat pada perempuan-perempuan zaman sekarang apabila didera persoalan yang mirip bahkan lebih sepele?

Okelah, mari kita mencoba berprasangka baik, karena setiap orang ada zamannya, dan setiap zaman selalu memunculkan orang-orang teguh dan sehebat Ibu Athirah. Tak terkecuali kini, karena memang menjadi manusia tangguh, hebat, baik atau apapun konotasi positif maupun negatif yang sering kali kita labelkan adalah sebuah pilihan bukan karena keterpaksaan takdir atau berbekal alasan-alasan. Oleh sebab itulah, kata seorang Albert Camus (2009) bahwa “Cinta adalah pemberontakan, atau tidak sama sekali” sepertinya pas untuk kita camkan agar kita tidak seenaknya mencari pembenaran-pembenaran atas kesesatan kita berperilaku.

Ya, tentu tak bisa dipungkiri, inilah zaman modern yang dengan diam-diam sedang mendikte kita sebagai generasi pencinta masa kini. Tak bisa dinafikkan memang bahwa tantangan hidup semakin berat. Akan tetapi, atas dasar modernisasi itu pulalah yang seharusnya jadi support agar kita bisa membentuk karakter kekinian kita untuk lebih tangguh melebihi Athirah. Era keterbukaan akses informasi seperti sekarang, setidaknya mampu menjadikan kita manusia-manusia yang kaya bekal kematangan hidup untuk kemudian paling tidak mampu bertoleransi atau sekedar berdamai dengan persoalan-persoalan hidup yang  dihadapi. Sehingga pada akhirnya tidak lagi gampang ditemukan ibu-ibu, calon ibu,  perempuan-perempuan Indonesia menjadi bahan kelakar kaum lelaki juga yang lebih parah menjadi materi gunjingan berita “miring” di media.

Maaf, sama sekali tak ada maksud untuk “menelanjangi” kaum perempuan kekinian pada tulisan ini, sehingga seolah mengumbar aib serta kebencian, atau seakan memukul rata bahwa semua perempuan kini sama saja seperti mereka yang kebetulan pernah kita temui atau mereka yang lagi sial dan kemudian jadi objek berita-berita miring di media itu. Juga tak ingin menggiring perempuan masa kini untuk berfikir mundur, lari dari jati dirinya, tidak jujur apa adanya pada apa yang mereka mau dan menjadi orang lain seperti Athirah yang seutuhnya.

Sungguh tidak ada maksud lain mengangkat topik ini kepermukaan selain merupakan bentuk kegelisahan dan kekhawatiran melihat fenomena sosial yang ada. Bahkan beberapa kalangan dengan tegas menganggap fenomena “gejolak anak muda yang belum dewasa” tak lagi mengenal usia dan strata sosial. Dari itu semua, mungkin ini adalah sekadar bentuk kerinduan sebagian kaum Adam seperti penulis, pada nilai-nilai luhur kearifan lokal yang dipegang teguh oleh sesosok perempuan seperti Ibu Athirah yang kini mulai hilang terkikis zaman.

Sekian!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.