Untuk Dirimu

screenshot_2016-10-25-12-14-44-1
Iwan Fals (Gambar: Google.com)

Seorang bergaun panjang berjalan menghampiriku, dengan gaya dan bahasa yang khas, menanyakan jadwal kuliah, sebuah rutinitas yang baru saja kita awali lagi, sebagai manusia-manusia pencari ilmu yang tak pernah pede dangan apa yang kini diketahuinya. Di sana, kau berdiri tepat di hadapanku, sambil menatap matamu yang tajam,  ingin kupastikan merahnya mukamu sebagaimana merahnya almamater  yang kini telah kita lemarikan.

Selanjutnya, kutelusuri tanya demi tanya untuk sebuah nama yang mewakili sosokmu. **, sebuah nama dalam inisial yang kudapat dan tetap ingin kusimpan sendiri. Akronim dari dua penggal kata yang tak begitu panjang, sengaja kusingkat agar tetap terjaga keanggunannya, terjaga pada sebuah frase bertitel “rahasia”. #**, sudah cukup lama rasanya, singkatan dengan tanda pagar itu tersimpan rapi dalam catatan personal smartphoneku. Namun begitulah, tak ada sesuatu pun hadir tanpa alasan. Akronim bertagar itu sepertinya adalah tanda, bahwa nama di balik dua huruf itu selalu setia di benak, selalu ada menyertai fikiran dan hati. Mungkin saja, ini tak lain ada wujud akan sebuah rasa yang sampai saat ini tak berani kuberi makna.

Tak terasa hari pun berlalu, seperti biasa kau datang ke kampus dengan wajah penuh senyum sumringah pertanda semangat. Entah apa yang coba kau tunjukkan dari mimik wajahmu, selain cerita tentang perjalananmu melintasi dua propinsi tiap minggu, selain tentang usaha dan perjuanganmu mengumpulkan nominal demi nominal untuk membiayai kuliahmu yang menurutku tidaklah mudah.

Masih tetap saja samar, saya lagi-lagi tidak mampu menemukan jawaban utuh tentangmu. Terbuat dari apakah sebenarnya sosok tangguhmu itu? Apakah kau memang selalu piawai untuk lolos dari berbagai persoalan, sehingga tak tampak sisa-sisa masalah diroman wajahmu? Atau jangan-jangan yang kau tunjukkan hanya senyum yang memalsukan kegundahanmu? Yah, yang tampak hanya senyum, senyum yg tidak ada seorangpun tahu apakah kau sedih atau bahagia. “Hmmm..**, what’s behind your smile?…Akh..kau sungguh luar biasa perempuan muda!”

****

Kini kau muncul lagi, tak begitu jelas apa maksud Tuhan akan semuanya itu. Kau dengan seenaknya saja datang dan pergi seperti pesawat tempur dalam lagu bang Iwan Fals yang sangat kau gandrungi itu. Kau hadir tiba-tiba dan kemudian menghilang entah ke mana, seperti sebuah misteri yang datang pada sepenggal kisah kehidupan yang tak pernah bisa ditebak akhirnya.

Tapi sahabatku, pada akhirnya kita pun harus merelakan sepenggal cerita itu jadi masa lalu. Kita telah mengakhirinya dengan elegan, tanpa benci dan dendam, walaupun harus kuakui bahwa sejujurnya itu tetap saja meninggalkan sesak yang teramat dalam. Tapi, anggaplah itu sebutir pil semangat untuk melanjutkan perjuangan, demi sebuah masa depan yang semoga saja akan lebih baik.

“Sahabat”, kayaknya kata itulah yang paling cocok untuk kita saat ini. Maafkan atas semua yang dulu yang tentunya banyak tidak mengenakkannya. Marilah berdamai dengan semua rasa, apapun itu. Teruslah berjalan, walau kita tidak lagi pada arah yang sama, barangkali saja jalan itu tidak selurus yang kita harap, sehingga kemudian dapat mempertemukan kita di ujung sana, yang walau itu rasanya sangat tidak mungkin.

Untuk itu, “janganki lupa bahagia!, santai mki saja, duniaji ini” (Tumming & Abu, 2016) 😊

Sekian!!

Mks, 25 Oktober 2016

Ahdan

One thought on “Untuk Dirimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.