Belajar Demokrasi dari Desa

screenshot_2016-12-16-20-35-56-1-1
Albert Einstein 

“Orang dungu sekalipun akan bisa tahu, akan tetapi tidak semua bisa sampai pada paham” ~ Albert Einstein

Dalam penulisan ilmiah, ada metode yang sering kali jadi acuan yaitu konsep ‘piramida terbalik’. Sebagaimana namanya, metode Piramida Terbalik adalah sebuah struktur penulisan atau bentuk penyajian sebuah tulisan yang kalau diilustrasikan, bentuknya memang mirip dengan piramida mesir namun posisinya terbalik, di mana pemaparan tulisan  dimulai dengan hal-hal umum (sederhana) hingga pada penjelasan-penjelasan yang lebih rinci yang sifatnya khusus. Maksud dari metode penulisan ini adalah agar pembacara dapat segera mengetahui inti dari tulisan yang ingin disampaikan.

Sebagaimana metode ‘piramida terbalik’, seorang tokoh paling berpengaruh pada abad 20 hingga kini yakni Albert Einstein pernah mengatakan bahwa “mana kala kita tidak mampu ‘melihat’ hal rumit menjadi lebih sederhana, maka itu artinya di sanalah kita berada pada posisi belum paham tentang sesuatu hal tersebut”. Jika kita merunut biografinya pada (wikipedia.org), Albert Einstein yang pada masa mudanya dianggap sebagai pelajar yang lambat, pemalu, mengidap dyslexia (sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun) hingga rumor tentang perkembangan mentalnya yang sering dikaitkan Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme, bukanlah sosok spesial dimasa kecilnya. Namun siapa sangka, masa kecilnya yang seolah tidak berkorelasi dengan capaian serta temuan-temuannya yang banyak memberi perubahan positif peradaban hingga sekarang, memberi gambaran bahwa proses lah yang telah membentuknya menjadi Einstein sebagaimana yang kita kenal kini.

Belakangan ini, saya dan mungkin juga anda sering kali disuguhi pernyataan Prof Anies Baswedan melalui media yang intinya bahwa membangun Indonesia khususnya serta peradaban dunia secara menyeluruh, tak bisa hanya difokuskan pada pembangunan fisik semata. Akan tetapi, hal yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana mencerdaskan bangsa, membangun manusia seutuhnya dengan adil dan beradab. Saya pribadi sangat sepakat dengan wacana politik Prof Anies tersebut, terlepas dari keputusannya untuk terjung langsung ke kancah politik akhir-akhir ini yang tidak sedikit memunculkan ‘kerut dahi’ bagi para pengidolanya yang mungkin saja memahami politik hanya sesimpel “jalan untuk mencapai, merebut dan mempertahankan kekuasaan”.

Namun apapun itu, sosok seorang Anies Baswedan tentu bukan anak kemarin sore yang baru belajar tentang politik yang tak jarang dikonotasikan negatif. Saya pribadi teramat yakin seyakin-yakinnya bahwa sosok Anies Baswedan dengan gelar professornya dan latar belakang pendidikannya, pasti sudah tamat paham dengan makna politik ala Max Weber yang mengartikan politik sebagai “sarana perjuangan untuk sama-sama melaksanakan politik atau perjuangan untuk mempengaruhi pendistribusian kekuasaan dan hukum dalam suatu negara. Dengan rekam jejaknya sebagai pemimpin tertinggi di sebuah perguruan tinggi ternama, serta pengalamannya di pemerintahan sebagai menteri meskipun hanya beberapa bulan, tentu sosok Anies sangat mahfum dan tak akan lupa pesan Plato dan Aristoteles bahwa politik adalah suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik (polity) yang terbaik, dalam rangka mengembangkan bakat dan harkat hidup manusia dengan rasa kemasyarakatan yang akrab dan hidup dalam suasana moralitas. Dengan demikian, adalah hal wajar jika banyak melabeli statement seorang Anies Baswedan tentang “pembangunan manusia seutuhnya” sebagai statement konstruktif, yang hadir melalui hasil telaah dan kajian mendalam yang komprehensif. Sehingga, sampai pada mengatakan bahwa pernyataannya ‘tiba masa tiba akal’, Anies Baswedan tidak mengerti persoalan bangsa adalah suatu pernyataan gegabah yang sangat prematur.

Screenshot_2016-12-17-14-15-19-1.png
Smart Pete-Pete ala Makassar (Gambar: detik.com)

Sosok lain pada tahap terapan kebijakan, baru-baru ini Walikota Makassar, Ir Danny Ramadhan Pomanto meluncurkan sebuah prototype sarana transportasi yang diberi nama Smart Pete-Pete. Mobil Pete-Pete Smart ini dilengkapi Wi-fi, televisi dan penyejuk udara, dengan kapasitas 12 penumpang duduk, 4 berdiri dan 1 untuk kursi roda (detik.com). Secara teknis, dengan dilengkapi berbagai fasilitas, sarana transportasi smart pete-pete seolah menjawab tuntutan kebutuhan dan keinginan warga Makassar sekaligus. Kebutuhan akan sarana transportasi massa, serta keinginan akan fasilitas yang memberi rasa nyaman dalam bertransportasi. Selanjutnya warga akan terdorong menggunakan angkutan umum dan menekan penggunaan kendaraan pribadi, sehingga secara perlahan persoalan kemacetan lalulintas dapat diminimalisir. Dari terobosan tersebut, Danny Pomanto sebagai walikota dengan basic pengetahuan teknik arsitektur dan tata kota, terlihat betul sangat memahami persoalan yang dihadapi warganya untuk soal satu itu.

Belajar dari tokoh dunia sekaliber Albert Einstein, atau pada sosok sekelas Anies Baswedan, bahkan pada seorang walikota Makassar Danny Pomanto, tentu tidak ada salahnya dilakukakan. Pemahaman tentang hukum relatifitas dan konsep fisika lainnya oleh Einstein, memahami persoalan mendasar yang dihadapi bangsa ini sebagaimana Anies dan Danny Pomanto, merupakan bekal masing-masing kita untuk layak jadi ‘pemimpin’, baik jadi pemimpin untuk diri pribadi, kelompok, maupun untuk skala yang lebih besar.

Niat memberi warna pada pembangunan bangsa dan negara, berkontribusi memajukan peradaban, tak akan tercapai hanya dengan modal cerdas bawaan saja, tapi ada proses belajar yang benar serta serius yang perlu dilalui sehingga kita tidak hanya mentok pada tahap tahu saja, namun perlu sampai pada fase paham yang utuh untuk dapat melakukan sesuatu.

Proses belajar yang benar untuk bisa sampai pada fase mengerti dengan sebenarnya, apa lagi masuk untuk menyentuh persoalan mendasar bangsa ini, seperti halnya masalah sistem politik dan demokrasi yang merupakan titik tolak menentukan arah kebijakan pembangunan suatu negara dengan segala macam kompleksitasnya pasti tidak semudah membuat karya tulis model piramida terbalik. Elemen-elemen negara yang rumit, perlu sentuhan dari berbagai aspek keimuan dan dari berbagai macam sumber daya pula.  Sebagaimana metode piramida terbalik atau pun untuk bisa mencapai tahap paham sebagai mana pesan Einstein, tak ada salahnya kita sedikit menurunkan level gengsi kita dengan meluangkan waktu mengamati proses politik pada skala terkecil dari sistem bernegara kita yaitu desa.

Ada beberapa hal menarik, berkaca pada proses Pilkades serentak di beberapa tempat di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan beberapa waktu yang lalu. Mungkin saja di pelosok kampung yang jauh di sana itu tidak banyak yang paham tentang hak asasi berkelompok dan berserikat, kebebasan berpendapat sampai pada praktek white or black campaign serta politik bersih maupun money politic, namun  berada pada ranah sistem terendah bernegara tersebut, di sanalah dinamika politik terlihat nyata. Di desa, yang notabene tidak ada tolak ukur jelas siapa yang layak dan tak layak dipilih, kita disuguhi cara elegan mempengaruhi dan dipengaruhi untuk memilih dan dipilih, bagaimana menjadi golongan putih (golput) atau memilih untuk tidak memilih. Mungkin juga karena pada tingkat desa tidak ada benefitnya menjadi oposisi, tapi atas dasar menjaga hubungan baik dan memang itulah yang lebih utama, keputusan menjadi golongan putih itu pun banyak jadi pilihan. Di sanalah (di desa) kita telah diberi tontonan bagaimana menjadi pihak ‘pemenang’ yang rendah hati dan di sisi lain menjadi pihak ‘kalah’ yang berbesar hati nan lapang dada.

Dari kacamata akademik maupun praktis, saya bukan orang yang pas menilai baik buruknya proses pesta demokrasi desa tersebut. Namun, berbekal pengamatan langsung di lapangan, sebagai orang yang lahir dan besar di desa, izinkan saya menyodorkan kesimpulan dan rekomendasi sederhana bahwa, ternyata dari orang-orang desa itulah kita dipertontonkan kedewasaan berpolitik dan berdemokrasi yang sesungguhnya. Dan sebagai saran seperti halnya akhir dari sebuah skripsi, “tak salah kiranya kita belajar bijak berdemokrasi pada mereka (beliau-beliau) orang-orang di pelosok desa sana”.

Sekian!

Kolaka, 17/12/2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.