Ironi Putih-Putih

screenshot_2017-01-18-18-33-02-1
Presiden, Wapres dan Kabinet Kerja

“Di luar segala pikiran tentang apa yangsalah dan yang benar, ada sebuah tempat. Aku akan menemuimu di sana”~Rumi

Mungkin saya salah satu dari sekian banyak orang yang masih bertanya-tanya kenapa kemeja putih menjadi seragam wajib semenjak pemerintahan presiden Joko Widodo. Sementara kalau kita kembali pada tag line “kerja, kerja dan kerja” yang didengungkan bapak presiden, seperti sangat bertolak belakang dengan pakaian putih yang terkesan anti kotor tersebut. Walaupun memang frase ‘kerja’ tidaklah melulu selalu berhubungan langsung dengan yang kotor-kotor, akan tetapi, berhadapan dengan pemaknaan yang terbangun akan arti putih yang anti kotor sudah terlanjur mengakar sebagai kesepakatan bersama susah dihindari.

Bahwa putih yang selalu dikesankan bersih, mengandung filosofi yang tak sekedar pada hal yang kasat mata saja. Mengapa sehingga kain putih (kain kafan) menjadi simbolik kesucian sebagaimana dapat kita lihat pada kegiatan-kegiatan ibadah keagamaan, bahkan sampai pada umbul-umbul tanda duka cita. Sehingga apa yang disimbolkan dengan putih-putih selalu dapat diartikan sebagai sesuatu yang benar, bersih dan suci. Hal itulah yang barangkali menjadi dasar, senada dengan cita-cita mulia presiden Jokowi untuk menciptakan birokrasi pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

screenshot_2017-01-17-11-35-02-1
Aksi Bela Islam

Kejadian lain pada akhir tahun 2016 lalu, jalan sekitar Bundaran Hotel Indonesia pun pernah menjadi lautan putih manusia. Masyarakat dengan jubah putih-putih tumpah ruah ke jalan sebagai respon terhadap video seorang kandidat kuat gubernur ibu kota Jakarta yang menurut kebanyakan mereka mengandung unsur penistaan terhadap agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Yang menarik, simbol jubah putih lagi-lagi sukses mengobarkan semangat para pengunjuk rasa untuk melakukan hal yang sama pada pekan-pekan berikutnya. Tak khayal, issue penistaan agama kembali menjadi menarik perhatian media-media nasional dan internasional hingga kini.

Sebagai efek dari unjuk rasa dengan label Aksi Bela Islam 411 dan terakhir aksi 212 yang konon katanya merupakan demo terbesar sepanjang sejarah di negeri ini, kepolisian negara pun bergeming dengan menindak lanjuti dan mentersangkakan sang calon gubernur. Cerita pun tak berakhir di situ, spekulasi pun bemunculan tanpa bisa dibendung. Atas dasar independensi hukum, tidak sedikit kalangan menganggap bahwa pemerintahan Jokowi serta lembaga yudikatif dengan mudah dapat diintervensi oleh sekelompok orang yang mengatas namakan ummat Islam yang boleh jadi tidak seluruhnya sepakat akan adanya unsur penistaan agama pada video yang dimaksud. Proses pengadilan memang masih terus berjalan, tapi berkaca pada proses hukum yang terkesan unprosedural (bagi sebagian orang), independensi hukum pun menjadi pertanyaan.

screenshot_2017-01-18-18-36-41-1
Bupati Katingan dan Selingkuhannya (sumber: medan.tribunnews.com)

Pada kasus yang lain baru-baru ini, pastinya teman pembaca masing ingat, bagaimana seorang bupati dengan seorang istri polisi menjadi berita viral di berbagai media akibat tertangkap basah melakukan tindak asusila. Hanya dalam hitungan jam tanpa mampu dicegah, media sosial sontak menjadi ramai oleh foto-foto pak bupati dengan seragam putih-putihnya, demikian pula sang pasangan selingkuhan dengan seragam yang sama (putih-putih) yang konon katanya adalah aparatur sipil negara (ASN) kesehatan di sebuah pusat kesehatan masyarakat. Menjadi populer akibat perbuatan menyimpang bagi yang bersangutan serta orang disekitarnya pastilah bukan menjadi pilihan, tapi berlindung pada kata khilaf, rasanya juga susah diterima. Apa mau dikata nasi telah jadi bubur, seragam putih bersih yang jadi kebanggaan, telah ternodai oleh perilaku menyimpang mereka sendiri.

Realitas yang ada terjadi seperti sebuah kebetulan, terlepas dari protagonis maupun antagonisnya mereka, orang-orang berjubah putih seperti menjadi pemeran utama dalam pagelaran drama sosial akhir-akhir ini. Dari semua sajian itu, lagi-lagi pesan yang dihadirkan oleh mereka dengan jubah putihnya, tampak tidak begitu sukses memberi gambaran tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan sebagaimana niat sedari awal penampil dengan jubah kebesarannya itu. Jubah yang seharusnya mampu menutupi diri pemakainya, seakan penuh nokta oleh nafsu dunia pemakainya.

Okelah, kita memang boleh saja memercayai Tuhan yang sama, mengikuti ajaran yang sama dan tak mesti kita memiliki pemahaman sama mengenaiNya, begitu pula bagaimana tampil di hadapanNya. Akan tetapi, bukankah pakaian seharusnya bisa mewakili pesan maupun kesan pemakainya? Atau, mungkin kita pada lupa bahwa pakaian sudah menjadi sangat erat kaitannya dengan jati diri, identitas, prefesionalisme hingga kelas strata sosial, baik secara personal maupun nasional? Kalau iya, maka wajar jika kini jubah putih tak lebih dari sekadar kamuflase, kemasan transparan yang hanya mampu membalut, tapi tak mampu menutupi malu sang tuan. Sungguh, bukankah ini suatu ironi saudaraku? 😦

Sekian!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.