Maafkan Saya Pak Ustadz

screenshot_2016-09-05-12-57-58-1

Tadi pagi sebelum Jumatan, melalui dinding facebook tak sengaja membaca surat terbuka seorang ustadz berisi tentang ucapan terima kasihnya kepada pak Ahok yang telah mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan kontroversi serta munculnya gerakan massa yang luar biasa pada hari ini (4/11) juga satu minggu yang lalu. Semenjak munculnya video kontoversi itu, baru hari ini saya menyimak sebuah bentuk komunikasi ke publik yang agak beda dari orang-orang yang punya maksud sama yaitu ajakan penolakan terhadap sosok seorang Ahok.

Saya benar-benar salut, kagum dan mengapresiasi gaya komunikasi penolakan yang model begini ini. Bahasa yang santun dan lembut betul-betul memberi warna lain dari biasanya. Warna yang biasa ditunjukkan dari pemuka-pemuka agama sekaliber ustadz Yusuf Mansur dengan modal gaya sedihnya (maaf), ataupun ustadz Arifin Ilham dengan suara seraknya, Aa Gim dengan nada suara dalamnya yang khas, bahkan lebih menarik dari gaya komunikasi yang ditunjukkan oleh seorang mantan presiden SBY sekalipun, meskipun saya juga paham maksud pak Ustadz kali ini tidaklah begitu jauh beda dengan tujuan mereka-meraka itu.

Kami yakin sepenuhnya bahwa saudara yang baik bukan yang melulu mengiyakan apa yang dikatakan saudaranya. Saudara yang benar-benar saudara adalah ia yang menunjukkan atau mengingatkan pada kebenaran, bukanlah ia yang selalu memberi pembenaran meskipun saudaranya dalam posisi keliru. Oleh karena itu, terlepas dari rasa kagum, rasa takjub yang tentu saja mudah dipicu akibat kedangangkalan saya yang awam, izinkan kami untuk sedikit memberi tanggapan yang mungkin dalam bentuk pernyataan juga pertanyaan terhadap tulisan pak Ustadz dalam surat terbuka tersebut. Sebab inilah bentuk kecintaan pada pak Ustadz, pada agama dan tentunya pada Allah SWT yang maha agung, yang mampu saya tunjukkan sampai detik ini.

Saya yakin pak Ustadz tentu sudah melihat dengan seksama video kontroversi itu. Namun, apakah pak ustadz sebagai seorang doktor, cendekiawan muslim, sudah melepaskan diri dari egosentris emosional bapak dan mengedepankan nalar dalam rangka melakukan proses klarifikasi, verifikasi, analisa mendalam terkait kebenaran utuh dari video tersebut? Tidakkah bapak membaca dan melihat dibeberapa media terkait pengakuan BY bahwa video sengaja dia buat tidaklah utuh lagi?

Seandainya pun video itu benar, bukankah Ahok sudah meminta maaf dan tidak ada maksud sedikit pun untuk menghina kitab suci kita. Lantas kenapa kemudian kita begitu benci dan menutup pintu maaf bagi dia, seolah-olah kita pernah diberi mandat oleh Tuhan untuk kemudian punya hak menghukum umat lain yang bersalah?Bukankah Allah SWT, Tuhan semesta alam saja masih mengampuni umatnya yang berdosa sebesar apapun dosa itu?

Pak Ustadz yang sangat saya hormati, tak ada maksud sedikit pun untuk mengajari ikan berenang, dalam hal ini menggurui bapak soal ilmu agama dan nilai-nilai universalnya. Tapi sungguh kami khawatir jangan-jangan bapak terbawa emosi yang dipendam dan mengabaikan nalar lalu kemudian ikut-ikutan menjadi kompor dengan sumbu pendek, sehingga menyulut emosi umat yang sepertinya kebanyakan tidaklah memiliki pemahaman Islam serta level kesabaran yang memadai sebagaimana pak ustadz.

Pak Ustadz, saya membaca seksama surat bapak, termasuk tanggapan pada mereka (muslim lain) yang pro Ahok dan tidak sejalan dengan pendapat mainstreem bapak. Saya begitu penasaran, apa dan bagaimana dasar berfikir pak Ustadz sehingga dengan mudah menjudge mereka-mereka itu munafik, lebih memilih membela Ahok dari pada agamanya? Terlepas dari bahasa surat pak ustadz yang menghanyutkan itu, hal yang mungkin bapak lupa kalau banyak dari pernyataan bapak dengan tanpa sadar membentuk kesan pada kami yang baca bahwa bapak seakan telah melampaui batas preoregatif Tuhan dan seenaknya mengklaim kebenaran bapak maupun golongan bapak sendiri dan yang lain itu salah.

Terkait dengan tanggapan pak Ustadz pada pernyataan Nusron Wahid yang menurut bapak seperti membentak, mengintimidasi (memelototi) bahkan terkesan jauh dari sopan santun kepada ulama yang lebih tua. Pak Ustadz, maaf! kami lagi-lagi tidak sepakat, memang memandangi lawan bicara dengan meletot apalagi dengan niatan mengintidasi, terhadap siapapun tidak bisa dibenarkan. Namun, sejauh kami sering melihat Nusron Wahid langsung maupun melalui TV,  dalam setiap berbicara, berargumentasi, gayanya dia, bentuknya dia memang seperti itulah adanya. Lantas apakah benar kalau kemudian kita seolah lebih tau maksud atau niatan daripada Nusron sendiri?

Saya dan banyak yang lain pembaca surat bapak yang notabene adalah seorang doktor ilmu agama lulusan luar negeri, tentu mengharapkan ilmu agama yang lebih dalam dari sekedar membawa kami untuk membandingkan bapak dengan Nusron, dengan misalnya bapak mengatakan bahwa argumentasi-argumentasi Nusron sangat lemah, tanpa bapak menawarkan kami argumen alternatif pembanding yang lebih kuat. Tak ada yang bisa kami petik dari surat terbuka itu, bapak tak sampai pada memberi kami ikan ataupun pancing sebagai bekal kami dalam pencarian kebenaran hakiki. Sungguh kami tak menemukan apa-apa kecuali ajakan melanggengkan kebencian dan kesombongan dalam rupanya yang lain.

Makassar, 4/11/2016 (23.00 wita)

(Sebagai tanggapan untuk surat terbuka Ustadz Agus Khoirul Huda kepa Ahok)

One thought on “Maafkan Saya Pak Ustadz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.