Rindu Tak Berjeda #1

Screenshot_2016-08-28-21-17-15-1
(Gambar: Google.com)

Berawal dari pertemuan yang tak disengaja, kita saling kenal tanpa direncana. Dari satu cerita ke cerita yang lain mengalir begitu saja. Aku dengan segalah kisahku, kamu dengan banya cerita ceritamu menemani perjalanan panjang kita pagi itu.

Aku terbangun pagi-pagi sekali, sebagaimana rencana sebelumnya, aku harus pulang ke kampung mengantarkan pesanan keluarga yang sudah seminggu lamanya. Mobil angkutan yang memang sudah langganan, cukup longgar tidak seperti biasanya. Di kelas dua belakang sopir, hanya terisi dua orang kalau tidak salah.

Aku membuka pembicaraan dengan segala keberanian yang dipaksakan. “Mau kemanaki?” tanyaku dengan sedikit was-was. Was was karena takut kamu tidak menanggapi, takut jangan-jangan kamu berfikir aku sok akrab atau semacamnya. “Mau ke kampung M… kita mau kemana?” jawabmu sambil balik bertanya. “Mau kekampung T” jawabku singkat. Aku terdiam dan berfikir sejenak, ternyata apa yang aku duga sejak tadi hanya ketakutan belaka.

Cerita pun berlanjut, aku mengenalkan diri dan kamu pun melakukan hal yang sama. Ternyata kita satu almamater dengan strata pendidikan yang sama. Aku memang sudah wisuda waktu itu, tapi karena kegiatan lembaga kemahasiswaan, aku masih saja senang ke kampus untuk sesuatu dan lain hal. Masa-masa mahasiswa memang selalu menyenangkan. Tak jarang aku dengan teman-teman yang lain sering nginap di sekretariat hanya demi berkumpul dan bersenda gurau.

Kamu sepertinya menyimak dengan seksama ceritaku, sesekali kamu meng-iyakan sebagai tanda kamu setuju, kenal atau tahu apa yang aku cerita. Tak lupa kau bercerita tentangmu, tentang sekolah, kuliah dan yang lainnya. Satu hal yang mungkin beda, kamu sudah bersatus bekerja sebagai pegawai negeri sipil, pekerjaan yang menjadi idaman banyak orang. Tapi satu hal yang beda, kamu tidak seperti banyak pegawai negeri lainnya. Kamu tidak membanggakan diri, atau sombong karena status itu. Dan sungguh aku mengagumi itu.

Kurang lebih tiga jam lamanya kita bercerita yang kadang diselingi tawa. Akhirnya aku harus lebih dulu turun, dan kamu masih melanjutkan perjalanan sekitar belasan kilometer lagi. Berbekal nomor telepon yang kamu berikan, aku berharap kita bisa bertemu lagi atau berkomunikasi via telepon atau sms setidaknya. Harapan itu begitu besar saat itu, tak tahan rasanya untuk menghubungimu secapatnya. Sms pun menjadi penyambung cerita selanjutnya, tak begitu lama setelah pertemuan itu.

Dua atau kira-kira tiga bulan setelahnya. Aku berusaha menemuimu di kampus sebagaimana pernah kita sepakati dulu. “Kapan-kapan kita ketemu dikampus ya kalo ada waktu?!” Kataku waktu di mobil dalam perjalan ke kampung itu, dan kamu pun mengiyakan dengan sopan sambil tersenyum. Rasanya ingin segera menemuimu, bercerita panjang lebar tentang apa yang kita lalui semenjak pertemuan itu. Pesan pendek kukirim untuk sebuah konfirmasi keberadaanmu. Kamu sedang praktek di rumah sakit katamu mebalas smsku. Rasanya kamu agak sibuk, tak ingin aku mengganggumu. Dengan mencoba berlapang dada, aku ikhlaskan waktu itu untuk tak menemuimu.

Seminggu, sebulan dan bahkan setahun lebih kita tak lagi ada komunikasi. Akupun sibuk dengan berbagai hal, dan rasanya kamu juga begitu. Waktu itu adalah tahun kedua kuliah mastermu. Aku tau bahwa itu adalah masa-masa dimana kita butuh fokus lebih, fokus belajar, fokus kunsultasi dengan dosen pembimbing lebih dari biasanya. Semua yang pernah mengalami pasti tahu dan sepakat bahwa masa akhir studi memang amat berat dari biasanya.

Dan karena itulah, aku tak ingin mengganggumu. Aku tak ingin konsentrasimu buyar, waktumu tersita hanya karena harus menemuiku yang mungkin saja bagimu tidaklah penting. Aku hanya ingin menyapamu dalam diam. Aku cuma ingin menemuimu dalam mimpi mimpiku. Terlalu indah merindukanmu untuk dilewatkan. Yah… inilah rindu, rindu tanpa jeda kepadamu.

Kolaka, Mei 2016

Ironi Putih-Putih

screenshot_2017-01-18-18-33-02-1
Presiden, Wapres dan Kabinet Kerja

“Di luar segala pikiran tentang apa yangsalah dan yang benar, ada sebuah tempat. Aku akan menemuimu di sana”~Rumi

Mungkin saya salah satu dari sekian banyak orang yang masih bertanya-tanya kenapa kemeja putih menjadi seragam wajib semenjak pemerintahan presiden Joko Widodo. Sementara kalau kita kembali pada tag line “kerja, kerja dan kerja” yang didengungkan bapak presiden, seperti sangat bertolak belakang dengan pakaian putih yang terkesan anti kotor tersebut. Walaupun memang frase ‘kerja’ tidaklah melulu selalu berhubungan langsung dengan yang kotor-kotor, akan tetapi, berhadapan dengan pemaknaan yang terbangun akan arti putih yang anti kotor sudah terlanjur mengakar sebagai kesepakatan bersama susah dihindari.

Bahwa putih yang selalu dikesankan bersih, mengandung filosofi yang tak sekedar pada hal yang kasat mata saja. Mengapa sehingga kain putih (kain kafan) menjadi simbolik kesucian sebagaimana dapat kita lihat pada kegiatan-kegiatan ibadah keagamaan, bahkan sampai pada umbul-umbul tanda duka cita. Sehingga apa yang disimbolkan dengan putih-putih selalu dapat diartikan sebagai sesuatu yang benar, bersih dan suci. Hal itulah yang barangkali menjadi dasar, senada dengan cita-cita mulia presiden Jokowi untuk menciptakan birokrasi pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

screenshot_2017-01-17-11-35-02-1
Aksi Bela Islam

Kejadian lain pada akhir tahun 2016 lalu, jalan sekitar Bundaran Hotel Indonesia pun pernah menjadi lautan putih manusia. Masyarakat dengan jubah putih-putih tumpah ruah ke jalan sebagai respon terhadap video seorang kandidat kuat gubernur ibu kota Jakarta yang menurut kebanyakan mereka mengandung unsur penistaan terhadap agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Yang menarik, simbol jubah putih lagi-lagi sukses mengobarkan semangat para pengunjuk rasa untuk melakukan hal yang sama pada pekan-pekan berikutnya. Tak khayal, issue penistaan agama kembali menjadi menarik perhatian media-media nasional dan internasional hingga kini.

Sebagai efek dari unjuk rasa dengan label Aksi Bela Islam 411 dan terakhir aksi 212 yang konon katanya merupakan demo terbesar sepanjang sejarah di negeri ini, kepolisian negara pun bergeming dengan menindak lanjuti dan mentersangkakan sang calon gubernur. Cerita pun tak berakhir di situ, spekulasi pun bemunculan tanpa bisa dibendung. Atas dasar independensi hukum, tidak sedikit kalangan menganggap bahwa pemerintahan Jokowi serta lembaga yudikatif dengan mudah dapat diintervensi oleh sekelompok orang yang mengatas namakan ummat Islam yang boleh jadi tidak seluruhnya sepakat akan adanya unsur penistaan agama pada video yang dimaksud. Proses pengadilan memang masih terus berjalan, tapi berkaca pada proses hukum yang terkesan unprosedural (bagi sebagian orang), independensi hukum pun menjadi pertanyaan.

screenshot_2017-01-18-18-36-41-1
Bupati Katingan dan Selingkuhannya (sumber: medan.tribunnews.com)

Pada kasus yang lain baru-baru ini, pastinya teman pembaca masing ingat, bagaimana seorang bupati dengan seorang istri polisi menjadi berita viral di berbagai media akibat tertangkap basah melakukan tindak asusila. Hanya dalam hitungan jam tanpa mampu dicegah, media sosial sontak menjadi ramai oleh foto-foto pak bupati dengan seragam putih-putihnya, demikian pula sang pasangan selingkuhan dengan seragam yang sama (putih-putih) yang konon katanya adalah aparatur sipil negara (ASN) kesehatan di sebuah pusat kesehatan masyarakat. Menjadi populer akibat perbuatan menyimpang bagi yang bersangutan serta orang disekitarnya pastilah bukan menjadi pilihan, tapi berlindung pada kata khilaf, rasanya juga susah diterima. Apa mau dikata nasi telah jadi bubur, seragam putih bersih yang jadi kebanggaan, telah ternodai oleh perilaku menyimpang mereka sendiri.

Realitas yang ada terjadi seperti sebuah kebetulan, terlepas dari protagonis maupun antagonisnya mereka, orang-orang berjubah putih seperti menjadi pemeran utama dalam pagelaran drama sosial akhir-akhir ini. Dari semua sajian itu, lagi-lagi pesan yang dihadirkan oleh mereka dengan jubah putihnya, tampak tidak begitu sukses memberi gambaran tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan sebagaimana niat sedari awal penampil dengan jubah kebesarannya itu. Jubah yang seharusnya mampu menutupi diri pemakainya, seakan penuh nokta oleh nafsu dunia pemakainya.

Okelah, kita memang boleh saja memercayai Tuhan yang sama, mengikuti ajaran yang sama dan tak mesti kita memiliki pemahaman sama mengenaiNya, begitu pula bagaimana tampil di hadapanNya. Akan tetapi, bukankah pakaian seharusnya bisa mewakili pesan maupun kesan pemakainya? Atau, mungkin kita pada lupa bahwa pakaian sudah menjadi sangat erat kaitannya dengan jati diri, identitas, prefesionalisme hingga kelas strata sosial, baik secara personal maupun nasional? Kalau iya, maka wajar jika kini jubah putih tak lebih dari sekadar kamuflase, kemasan transparan yang hanya mampu membalut, tapi tak mampu menutupi malu sang tuan. Sungguh, bukankah ini suatu ironi saudaraku? 😦

Sekian!

Belajar Demokrasi dari Desa

screenshot_2016-12-16-20-35-56-1-1
Albert Einstein 

“Orang dungu sekalipun akan bisa tahu, akan tetapi tidak semua bisa sampai pada paham” ~ Albert Einstein

Dalam penulisan ilmiah, ada metode yang sering kali jadi acuan yaitu konsep ‘piramida terbalik’. Sebagaimana namanya, metode Piramida Terbalik adalah sebuah struktur penulisan atau bentuk penyajian sebuah tulisan yang kalau diilustrasikan, bentuknya memang mirip dengan piramida mesir namun posisinya terbalik, di mana pemaparan tulisan  dimulai dengan hal-hal umum (sederhana) hingga pada penjelasan-penjelasan yang lebih rinci yang sifatnya khusus. Maksud dari metode penulisan ini adalah agar pembacara dapat segera mengetahui inti dari tulisan yang ingin disampaikan.

Sebagaimana metode ‘piramida terbalik’, seorang tokoh paling berpengaruh pada abad 20 hingga kini yakni Albert Einstein pernah mengatakan bahwa “mana kala kita tidak mampu ‘melihat’ hal rumit menjadi lebih sederhana, maka itu artinya di sanalah kita berada pada posisi belum paham tentang sesuatu hal tersebut”. Jika kita merunut biografinya pada (wikipedia.org), Albert Einstein yang pada masa mudanya dianggap sebagai pelajar yang lambat, pemalu, mengidap dyslexia (sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun) hingga rumor tentang perkembangan mentalnya yang sering dikaitkan Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme, bukanlah sosok spesial dimasa kecilnya. Namun siapa sangka, masa kecilnya yang seolah tidak berkorelasi dengan capaian serta temuan-temuannya yang banyak memberi perubahan positif peradaban hingga sekarang, memberi gambaran bahwa proses lah yang telah membentuknya menjadi Einstein sebagaimana yang kita kenal kini.

Belakangan ini, saya dan mungkin juga anda sering kali disuguhi pernyataan Prof Anies Baswedan melalui media yang intinya bahwa membangun Indonesia khususnya serta peradaban dunia secara menyeluruh, tak bisa hanya difokuskan pada pembangunan fisik semata. Akan tetapi, hal yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana mencerdaskan bangsa, membangun manusia seutuhnya dengan adil dan beradab. Saya pribadi sangat sepakat dengan wacana politik Prof Anies tersebut, terlepas dari keputusannya untuk terjung langsung ke kancah politik akhir-akhir ini yang tidak sedikit memunculkan ‘kerut dahi’ bagi para pengidolanya yang mungkin saja memahami politik hanya sesimpel “jalan untuk mencapai, merebut dan mempertahankan kekuasaan”.

Namun apapun itu, sosok seorang Anies Baswedan tentu bukan anak kemarin sore yang baru belajar tentang politik yang tak jarang dikonotasikan negatif. Saya pribadi teramat yakin seyakin-yakinnya bahwa sosok Anies Baswedan dengan gelar professornya dan latar belakang pendidikannya, pasti sudah tamat paham dengan makna politik ala Max Weber yang mengartikan politik sebagai “sarana perjuangan untuk sama-sama melaksanakan politik atau perjuangan untuk mempengaruhi pendistribusian kekuasaan dan hukum dalam suatu negara. Dengan rekam jejaknya sebagai pemimpin tertinggi di sebuah perguruan tinggi ternama, serta pengalamannya di pemerintahan sebagai menteri meskipun hanya beberapa bulan, tentu sosok Anies sangat mahfum dan tak akan lupa pesan Plato dan Aristoteles bahwa politik adalah suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik (polity) yang terbaik, dalam rangka mengembangkan bakat dan harkat hidup manusia dengan rasa kemasyarakatan yang akrab dan hidup dalam suasana moralitas. Dengan demikian, adalah hal wajar jika banyak melabeli statement seorang Anies Baswedan tentang “pembangunan manusia seutuhnya” sebagai statement konstruktif, yang hadir melalui hasil telaah dan kajian mendalam yang komprehensif. Sehingga, sampai pada mengatakan bahwa pernyataannya ‘tiba masa tiba akal’, Anies Baswedan tidak mengerti persoalan bangsa adalah suatu pernyataan gegabah yang sangat prematur.

Screenshot_2016-12-17-14-15-19-1.png
Smart Pete-Pete ala Makassar (Gambar: detik.com)

Sosok lain pada tahap terapan kebijakan, baru-baru ini Walikota Makassar, Ir Danny Ramadhan Pomanto meluncurkan sebuah prototype sarana transportasi yang diberi nama Smart Pete-Pete. Mobil Pete-Pete Smart ini dilengkapi Wi-fi, televisi dan penyejuk udara, dengan kapasitas 12 penumpang duduk, 4 berdiri dan 1 untuk kursi roda (detik.com). Secara teknis, dengan dilengkapi berbagai fasilitas, sarana transportasi smart pete-pete seolah menjawab tuntutan kebutuhan dan keinginan warga Makassar sekaligus. Kebutuhan akan sarana transportasi massa, serta keinginan akan fasilitas yang memberi rasa nyaman dalam bertransportasi. Selanjutnya warga akan terdorong menggunakan angkutan umum dan menekan penggunaan kendaraan pribadi, sehingga secara perlahan persoalan kemacetan lalulintas dapat diminimalisir. Dari terobosan tersebut, Danny Pomanto sebagai walikota dengan basic pengetahuan teknik arsitektur dan tata kota, terlihat betul sangat memahami persoalan yang dihadapi warganya untuk soal satu itu.

Belajar dari tokoh dunia sekaliber Albert Einstein, atau pada sosok sekelas Anies Baswedan, bahkan pada seorang walikota Makassar Danny Pomanto, tentu tidak ada salahnya dilakukakan. Pemahaman tentang hukum relatifitas dan konsep fisika lainnya oleh Einstein, memahami persoalan mendasar yang dihadapi bangsa ini sebagaimana Anies dan Danny Pomanto, merupakan bekal masing-masing kita untuk layak jadi ‘pemimpin’, baik jadi pemimpin untuk diri pribadi, kelompok, maupun untuk skala yang lebih besar.

Niat memberi warna pada pembangunan bangsa dan negara, berkontribusi memajukan peradaban, tak akan tercapai hanya dengan modal cerdas bawaan saja, tapi ada proses belajar yang benar serta serius yang perlu dilalui sehingga kita tidak hanya mentok pada tahap tahu saja, namun perlu sampai pada fase paham yang utuh untuk dapat melakukan sesuatu.

Proses belajar yang benar untuk bisa sampai pada fase mengerti dengan sebenarnya, apa lagi masuk untuk menyentuh persoalan mendasar bangsa ini, seperti halnya masalah sistem politik dan demokrasi yang merupakan titik tolak menentukan arah kebijakan pembangunan suatu negara dengan segala macam kompleksitasnya pasti tidak semudah membuat karya tulis model piramida terbalik. Elemen-elemen negara yang rumit, perlu sentuhan dari berbagai aspek keimuan dan dari berbagai macam sumber daya pula.  Sebagaimana metode piramida terbalik atau pun untuk bisa mencapai tahap paham sebagai mana pesan Einstein, tak ada salahnya kita sedikit menurunkan level gengsi kita dengan meluangkan waktu mengamati proses politik pada skala terkecil dari sistem bernegara kita yaitu desa.

Ada beberapa hal menarik, berkaca pada proses Pilkades serentak di beberapa tempat di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan beberapa waktu yang lalu. Mungkin saja di pelosok kampung yang jauh di sana itu tidak banyak yang paham tentang hak asasi berkelompok dan berserikat, kebebasan berpendapat sampai pada praktek white or black campaign serta politik bersih maupun money politic, namun  berada pada ranah sistem terendah bernegara tersebut, di sanalah dinamika politik terlihat nyata. Di desa, yang notabene tidak ada tolak ukur jelas siapa yang layak dan tak layak dipilih, kita disuguhi cara elegan mempengaruhi dan dipengaruhi untuk memilih dan dipilih, bagaimana menjadi golongan putih (golput) atau memilih untuk tidak memilih. Mungkin juga karena pada tingkat desa tidak ada benefitnya menjadi oposisi, tapi atas dasar menjaga hubungan baik dan memang itulah yang lebih utama, keputusan menjadi golongan putih itu pun banyak jadi pilihan. Di sanalah (di desa) kita telah diberi tontonan bagaimana menjadi pihak ‘pemenang’ yang rendah hati dan di sisi lain menjadi pihak ‘kalah’ yang berbesar hati nan lapang dada.

Dari kacamata akademik maupun praktis, saya bukan orang yang pas menilai baik buruknya proses pesta demokrasi desa tersebut. Namun, berbekal pengamatan langsung di lapangan, sebagai orang yang lahir dan besar di desa, izinkan saya menyodorkan kesimpulan dan rekomendasi sederhana bahwa, ternyata dari orang-orang desa itulah kita dipertontonkan kedewasaan berpolitik dan berdemokrasi yang sesungguhnya. Dan sebagai saran seperti halnya akhir dari sebuah skripsi, “tak salah kiranya kita belajar bijak berdemokrasi pada mereka (beliau-beliau) orang-orang di pelosok desa sana”.

Sekian!

Kolaka, 17/12/2016

Beranjaklah!

ina-ahsaeni1
Pesanmu

Akhirnya kita tak saling mengabari untuk jangka waktu yang cukup lama. Cukup lama rasanya, bagi kita yang sesungguhnya memang masih menginginkannya terjadi. Semenjak saat itu, kita sudah sepakat untuk tidak lagi komunikasi intens seperti biasanya. Walaupun di akhir kalimat kau berpesan, tetap berharap agar kita jangan sampai memutuskan silaturrahim yang sudah terjalin. Sehingga kalau memang komunikasi itu tetap diperlukan, sebaiknya dibatasi pada konten yang tidak seintim dulu.

Pertemuan kita pada pertengahan tahun beberapa bulan lalu, sepertinya akan menjadi momen terakhir kita bersua. Komitmen untuk berusaha tidak bertemu kita sepakati dengan maksud agar kita berdua bisa mulai fokus menatap masa depan masing-masing, terutama saya dengan keluarga baruku. Saya dengan status baru sebagai pendamping dari seorang perempuan lain dengan ikatan sakral, mau tidak mau harus bersegera memikirkan bagaimana mulai membangun rumah tangga. Alasan yang lain tentu saja adalah supaya kita tak lagi memperbuat hal-hal tak patut meskipun itu kita berdua inginkan.

Hal terakhir yang kamu pesankan sebagai nasehat sekaligus penyemangat adalah tentang keluarga yang harus jadi hal utama yang mesti jadi prioritas. Gejolak rasa yang pernah menjadi bagian dari susah senangnya perjalanan kita tentu sangat berat untuk menerima keputusan tersebut. Tapi dengan alasan keinginannya untuk beranjak dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering kita lakukan, serta perasaan bersalahmu seperti memaksaku untuk menerima permintaanmu. Demi kebaikan saya, kamu dan dia, saya harus berbesar hati untuk itu.

Tidak sepenuhnya yakin untuk menyimpulkan bahwa rasa cinta yang begitu besarlah yang menjadi alasan buat kita yang sampai saat ini belum juga bisa lupa pada masa lalu itu. Terlalu berani rasanya untuk mengatas namakan rasa itu. Sebagai kosakata pengganti, saya pribadi ingin mengatakan bahwa beranjak dari kebiasaan-kebiasaan lama yang nyamanlah yang menjadikan hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Terlepas dari ada tidaknya pelarian, tetap saja kata ‘move on’ adalah kata yang begitu gampang diucap tapi sulit dibuktikan. Namun sebagaimana yang kamu katakan sambil terisak “saya tau itu sulit kak, tapi bukan berarti tidak bisa…kuatlah kak!”, maka saya berusaha sekuatnya untuk itu.

Tak ada yang perlu disesali seharusnya, meskipun tidak semua yang lalu adalah baik, apatah lagi untuk berharap sesuatu itu menyisakan manfaat. Kita hanya melakoninya apa adanya, menikmati yang tersaji sebagaimana semestinya. Dengan sadar dulu kita memulainya, melakoninya, kemudian mengakhirnya dengan penuh kesadaran pula. Masa lalu itu telah menghantarkan kita pada masa kini yang seharus lebih baik. Dan kalaupun hari ini kenyataannya masih saja tidak sesuai harapan, atau mungkin kita merasa bahwa upaya2 selama ini masih belum menunjukkan hasil maksimal, barangkali saja itu adalah sebuah imbalan yang harus dilunasi pada sang waktu.

Untukmu, mari menjaga tekad itu, mari tetap kuat untuk fokus menatap masa depan masing-masing sebagaimana yang telah kita ikrarkan. Untuk kau ketahui, saya selalu mencari kabar tentangmu, sekedar ingin memastikan kalau kau baik-baik saja. Saya tak ingin kau tersesat lagi, sebagaimana ketersesatan dulu yang sengaja kita ciptakan.  Mari menjaga niatan baik kita, dengan tidak pula kita abai dan menafikkan masa lalu yang bagaimana pun memberi banyak pelajaran, bekal yang menguatkan kita sehingga masih bisa berdiri hingga hari ini.

Saya, Kamu dan Kopi

screenshot_2016-11-19-18-56-03-1
(Gambar: forumkopi.com)

Kopi pertama pagi ini, sehitam malam semanis cemburu ~ Raditya Dika.

Sembari terdiam, mengikuti fikiran yang larut menyelami lamunan, tentang suatu masa, tentang apa yang dulu sudah sekian lama tak kuresapi tentangmu. Pagi ini dan untuk pagi di hari-hari selanjutnya hanya ditemani segelas susu full cream yang rada hambar. Pagi yang tak lagi seperti biasanya. Kali ini tak ada kopi juga tak ada kamu, menu pembuka pagi seperti kemarin-kemarin.

Memulai yang selalu sulit, awal yang selalu berat, dan sebagai penanda sakit kepala adalah isyarat sulitnya meninggalkan kebiasaan ngopi itu. meskipun begitu, tetap dilakoni demi kata ‘be healthy’ sebagaimana pesan dokter dari diagnosa yang terkesan trial and error (coba-coba), untuk mencari-cari sebab dari suatu akibat yang bernama penyakit.

Sebagaimana rokok, kopi seolah pilihan mudah menetapkan “kambing hitam”. Walau di lain sisi saya mungkin pula anda juga tau kalau penyakit muncul oleh banyak hal, dari dalam maupun dari luar tubuh, bukan hanya karena satu sebab, bukan karena sesuatu yang hanya bersifat materi yang kasat mata semata. Tapi itulah justifikasi medis, turunan dari kebenaran ilmiah katanya. Manakala dari sedikit kekeliruan berbanding pada sekian banyak pengalaman benarnya, di sanalah ia memposisikan diri benar, dan kita patut sepakat mengakui itu.

Lagi pula, sehat itu perlu usaha, tak mungkin ada dengan berlama-lama berdebat soal proses. Harapan dan lantunan doa saja tidaklah cukup, memberi kesempatan pada upaya oleh orang yang lebih kompeten adalah tindakan bijak yang semestinya. Dan itulah sebaik-baiknya doa yang insyaallah diijabah.

Kopi dan kamu adalah dua hal yang tak mungkin saya bandingkan satu sama lain. Terlepas dari rasa yang sama, manis pahit yang pernah kamu beri tak ubahnya kopi yang dulu sering kuseruput setiap pagi. Yah, izinkan saya mengenangmu bersama kopi, biarlah kamu dan kopi tetap bermain di relung ingatan, tetap jadi penyemangat di kala pagi, meski tak jarang jadi penyiksa di penghujung malam. Kali ini saya harus sepakat kata Dee Lestari, “Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan”.

Lepas dari itu semua, seperti halnya dengan kopi, meniggalkanmu adalah fase yang tidak mudah terlewati. Beranjak dari kebiasaan lama itu bukanlah perkara gampang. Mungkin itulah kenapa seorang John F Kennedy jauh-jauh hari sudah mengingatkan dengan untaian kata bijaknya ia berpesan, “berhati-hatilah dengan fikiranmu karena itu akan jadi ucapanmu, berhati-hatilah dengan ucapanmu karena itu akan jadi tindakanmu, berhati-hatilah dengan tindakanmu karena itu akan jadi kebiasaan-kebiasaanmu, dan berhati-hatilah dengan kebiasaanmu karena itu akan jadi karaktermu”.

“Saya, yang tidak pernah kamu mengerti. Saya, racun yang membunuhmu perlahan. Saya, yang kamu reka dan kamu cipta. Sebelah darimu menginginkanku datang, membencimu hingga muakku mendekati gila, menertawakan segala kebodohanku, kehilafan untuk sampai jatuh hati kepadamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kita berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisanku dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipi ini karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang kuhanguskan bukti bahwa kita pernah saling tergila-gila beterbangan masuk ke mata. Semoga saya mampu pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupku, pasti akan lebih mudah” -Dee Lestari

Kalian adalah dua hal yang beda, kamu bernilai tidak seharga kopi. Tapi, kamu sebagaimana juga kopi, telah mengajariku mengartikan pahit manisnya hidup. Untuk itu, tetaplah di sana menjadi bagian dari ingatan-ingatanku, masih ada saya, masih ada dunia disekelilingmu, janganlah menghamba pada rasamu sendiri, karena saya masih menyukai itu.

Makassar, 26/11/2016 (diposting dari atas pete2 trayek Sentral-Mallengkeri)

Pengenalan Struktur Baja

Screenshot_2016-11-11-16-55-08-1.png
Baja struktural

Sebelum kita berbicara baja sebagai material struktur bangunan, berdasarkan unsur pembentuknya baja merupakan logam paduan, artinya paduan antara unsur besi (Fe) sebagai unsur dasar dengan beberapa elemen lainnya termasuk karbon (C). Kandungan unsur karbon dalam baja berkisar antara 0.2% hingga 2.1% berat sesuai kelasnya. Semakin tinggi kandungan karbon pada baja dapat meningkatkan kekerasan (hardness) dan kekuatan tariknya (tensile strength), namun di sisi lain membuatnya menjadi getas (brittle) serta menurunkan keuletannya (ductility). Elemen lain yang sering ada dalam baja adalah karbon, mangan, fosfor, sulfur, silikon, dan sebagian kecil oksigen, nitrogen dan aluminium. Selain itu, ada elemen lain yang ditambahkan untuk membedakan karakteristik antara beberapa jenis baja diantaranya; mangan, nikel, krom, molybdenum, boron, titanium, vanadium dan niobium (wikipedia.org)

Dalam perencanaan bangunan, baik bangunan gedung, bangunan transportasi (jalan, jembatan, bandara dan pelabuhan) maupun bangunan air (dam, irigasi dll) konstruksinya dianggap layak apabila memenuhi tiga kriteria yaitu layak dari aspek keamanan, aspek kenyamanan dan layak dari sisi ekonomi. Ketiga aspek ini penting, namun yang paling penting dari ketiganya adalah kelayakan dari sisi keamanan. Konstruksi akan dinyatakan aman apabila dari aspek kekuatan memenuhi syarat (handal).

Untuk mengetahui bahwa konstruksi atau bangunan itu handal yaitu dengan melakukan proses analisa struktur. Analisa struktur ini pula terdiri dari beberapa bagian yang tentunya tergantung pada bahan yang digunakan pada bagian struktur bangunan tersebut. Manakala bahan yang digunakan pada struktur utamanya (pondasi, sloef, kolom, balok, plat lantai dan plat atap) adalah beton, maka perlu dilakukan analisa struktur beton. Begitu pula manakala yang digunakan pada bagian struktur adalah bahan dari baja, maka perlu dilakukan analisa struktur baja. Demikian juga halnya pada struktur dengan bahan kayu. Kalau bahan strukturnya adalah perpaduan baja dan beton (komposit) maka yang harus dilakukan adalah analisa struktur dari keduanya.

Untuk konstruksi dengan bahan baja, ada beberapa metode analisa yang sering digunakan, metode tersebut antara lain; Metode elastis atau metode beban kerja (Allowable Stress Design/ASD).

Metode Elastis atau ASD

Di dalam metode ini, elemen struktur pada bangunan (pelat, balok, kolom, pondasi) harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tegangan yang timbul akibat beban kerja atau layanan tidak melampaui tegangan ijin yang telah ditetapkan. Dengan demikian, tegangan (σ) yang diperhitungkan akibat beban kerja/layanan harus berada dalam batas elastis.

σmaks ≤  σijin.

Metode Plastis

Didalam metode ini, kondisi batas untuk kekuatan harus berupa pencapaian kekuatan plastis. Kondisi plastis itu sendiri diartikan sebagai kondisi dimana apabila suatu batang diberi beban pada bagian lain, akan mengalami lengkung dan tidak kembali pada kondisi semula (perubahan bentuk). Pada kondisi batas lengkung hingga mengalami patah (keruntuhan) akibat tekanan/beban tersebut dikatan sebagai batas plastis (C.G. Salmon, 1994).

Metode Faktor Daya Tahan dan Beban (LRFD)
Pendekatan umum berdasarkan faktor daya tahan dan beban, atau disebut dengan Load Resistance Factor Design (LRFD) ini adalah hasil penelitian dari Advisory Task Force yang dipimpin oleh T. V. Galambos. Pada metode ini diperhitungkan mengenai kekuatan nominal Mn penampang struktur yang dikalikan oleh faktor pengurangan kapasitas (under-capacity) ϕ, yaitu bilangan yang lebih kecil dar 1,0 untuk memperhitungkan ketidak-pastian dalam besarnya daya tahan (resistance uncertainties). Selain itu diperhitungkan juga faktor gaya dalam ultimit Mu dengan kelebihan beban (overload) γ (bilangan yang lebih besar dari 1,0) untuk menghitung ketidak-pastian dalam analisa struktur dalam menahan beban mati (dead load), beban hidup (live load), beban angin (wind load), dan beban akibat gempa (earthquake effect). Formula untuk metode LRFD ini disajikan dalam persama berikut:

ϕ.Mn ≥  γ.Mu

Dari persamaan menunjukkan bahwa, syarat struktur suatu konstruksi dengan material baja manakala tahanan nominal dikali faktor reduksi kapasitas baja harus lebih besar atau minimal sama dengan beban yang bekerja dikalikan dengan faktor over load.

Kapasitas atau ketahanan suatu struktur dengan berbahan baja ditentukan oleh bentuk profil, luas penampang profil serta mutu baja yang digunakan. Mutu baja itu sendiri merupakan kualitas baja yang didasarkan pada sifat-sifat mekanis baja tersebut. Sifat mekanis baja yang jadi tolok ukur adalah tegangan tarik (ƒu) dan tegangan leleh minimum (ƒy). Selain itu sifat mekanis lain dari baja adalah modulus elastisitas (E), modulus geser, angka poisson dan koefisien muai (α). Adanya perbedaan sifat mekanis baja tersebut dipengaruhi oleh komposisi senyawa kimia logam yang membentuknya yakni persentase karbon C yang dipadukan dengan besi (ferrit) F.

Sekian!

Pengantar Mekanika Tanah

Jalan dan perlengkapannya yang rusak akibat ketidak stabilan tanah dasar

Mekanika tanah adalah bagian dari geoteknik yang merupakan salah satu cabang dari ilmu teknik sipil, dalam bahasa inggris mekanika tanah biasa diistilahkan dengan soil mechanics atau soil engineering dan Bodenmechanik dalam bahasa Jerman.

Istilah mekanika tanah diberikan pertama kali oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1925 melalui bukunya “Erdbau-mechanik auf boden physikalicher grundlage” yang artinya Mekanika Tanah berdasar pada sifat-sifat dasar fisik tanah. Secara fisik Tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dar agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak terikat secara kimia satu sama lain (wikipedia.org).

Untuk lebih mudah memahami ilmu mekanika tanah ini, maka secara sederhana dengan model piramida terbalik (dari hal umum ke hal khusus) mengapa mekanika tanah menjadi penting dijabarkan pada penjelasan di bawah. Salah satu aspek yang jadi prioritas utama harus terpenuhi dalam bangunan baik bangunan transportasi (jembatan, jalan dll), bangunan gedung, bangunan air (bendungan, saluran dll) adalah terciptanya bangunan yang handal (kuat). Bangunan akan dikatakan handal apabila memenuhi syarat teknis berdasarkan analisa struktur atau disebut juga perhitungan mekanika rekayasa.

Dalam konstruksi baik bangunan jembatan maupun gedung, terdapat bagian struktur utama yang menenentukan kehandalan konstruksi yakni struktur atas (upper sructure) dan struktur bawah (sub structure). Untuk bangunan gedung (building) upper structure atau dalam istilah lainnya yaitu super struktur terdiri dari; kolom, balok, plat lantai, plat atap dan rangka kuda-kuda. Pada bangunan jembatan (bridge) upper steucture terdiri dari abutmen, pier, gelagar, dan rangka baja (untuk jembatan rangka baja). Sementara yang termasuk bagian sub structure pada bangunan jembatan maupun gedung adalah pondasi.

Sebagai bagian dari struktur bangunan dengan posisi paling bawah bangunan, maka pondasi sangat menentukan  kekuatan atau kehandalan bangunan itu sendiri. Sementara kekuatan pondasi selain material pembentuknya, juga ditentukan oleh daya dukung tanah di bawah dan di sisi pondasi tersebut. Daya dukung tanah itu sendiri selain ditentukan oleh jenis, bentuk dan dimensi pondasi juga sangat ditentukan oleh sifat-sifat tanah baik sifat fisik maupun sifat mekanis. Sifat-sifat tanah tersebutlah yang akan dibahas dalam materi mekanika tanah.

screenshot_2016-11-09-12-04-55-1
Rumus daya dukung tanah

Dari persamaan di atas menunjukkan bahwa selain bentuk, dimensi dan kedalaman pondasi, daya dukung tanah sebagai parameter awal stabilitas bangunan sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat tanah seperti berat volume tanah, sudut geser tanah dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya tentang sifat-sifat tanah terkait rumus, metode dan tahapan perhitungannya dapat dilihat pada buku-buku Mekanika Tanah atau pada contoh perhitungan yang ada pada tautan ini.

Sekian!

Catatan ini merupakan materi pengantar mata kuliah Mekanika Tanah pada Program Studi Teknik Sipil.

Pengantar Sistem Drainase

screenshot_2016-11-08-23-41-46-1
Kanal sebagai bangunan drainase ukuran besar (Gambar; google.com)

Drainase (drainage) secara etimologi berasal dari kata kerja (to drain) yang artinya mengeringkan atau mengalirkan air. Drainase atau pengatusan adalah penanganan masalah kelebihan air baik yang ada diatas permukaan tanah maupun yang di bawah permukaan tanah. Pembuangan massa air secara alami atau buatan dari permukaan atau bawah permukaan tanah dapat dilakukan dengan mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air (wikipedia.org). Sehingga, secara umum sistem drainase dapat diartikan sebagai suatu rekayasa sipil dalam upaya pengaliran air yang berlebihan dalam konteks pemanfaatan tertentu.

Ada dua sistem pengaliran air yakni drainase dan irigasi. Sepintas kedua sistem ini mirip yaitu berupa saluran dan  fungsinya mengalirkan air, namun baik model jaringan, tujuan  maupun kegunaannya sangatlah beda. Kalau sistem irigasi tujuannya mengalirkan air dari penampungan (bendungan, danau, DAM atau embung) ke daerah yang akan diairi (area pertanian), sebaliknya drainase berfungsi untuk mengeringkan area yang terairi (tataguna lahan, jalan dll) dengan cara mengalirkannya ke daerah resapan, sungai, laut atau penampungan. Dengan demikian sistem irigasi bertujuan mengairi sementara sistem drainase berfungsi mengeringkan.

screenshot_2016-11-08-17-54-43-1
Illustrasi sistem drainase

Berdasarkan fungsi dan peruntukannya, sistem drainase terbagi menjadi dua yaitu sistem drainase perkotaan dan sistem drainase jalan raya.
1. Drainase perkotaan
Drainase perkotaan merupakan upaya teknis pengaliran/pengeringan air pada area pemukiman utamnya perkotaan agar tidak terjadi genangan air atau banjir yang dapat mengganggu kenyamanan dan keamanan manusia yang bermukim pada lokasi serta di sekitar lokasi tersebut.
2. Drainase jalan
Sebagaimana namanya, drainase jalan raya tentu saja dibuat dengan tujuan mengeringkan/mengalirkan air pada area jalan raya dan sekitarnya sehingga tidak terjadi genangan yang dapat mengganggu fungsi jalan baik secara langsung maupun untuk jangka panjang.

Untuk memaksimalkan fungsinya sebagaimana sistem irigasi, sistem drainase juga terdiri dari bangunan utama dan bangunan penunjang. Bangunan utama dalam sistem drainase adalah saluran dan bangunan penampungan atau area resapan (jika diperlukan). Sementara bangunan penunjang dapat berupa bangunan silang, pemecah energi, bangunan penahan erosi, inlet, outlet, pintu air, rumah pompa, kolam pengumpul, man hole, instalasi pengolahan limbah, stasiun meteorologi, stasiun pengujian kualitas air dan lain sebagainya.

Secara garis besar saluran terdiri dari saluran terbuka dan saluran tertutup. Saluran terbuka berdasarkan bentuk penampangnya dapat berupa segi empat, traphesium, parabola, setengah lingkaran dan setengah elips (bulat telur). Untuk saluran berbentuk segi empat maupun traphesium dalam dimensi kecil disebut gutter atau buis, ukuran sedang biasa disebut got dan untuk ukuran besar disebut kanal. Demikian pula untuk saluran tertutup berdasarkan konsteuksinya dalam ukuran kecil disebut pipa, ukuran sedang disebut siphon dan dalam dimensi besar disebut terowongan (tunnel).

Untuk memudahkan pemahaman tentang desain sistem drainase, maka ada beberapa hal yang perlu diketahui secara garis besar yaitu;
1) Dimensi saluran drainase
Dimensi saluran adalah kemiringan saluran, ukuran penampang saluran berupa lebar, tinggi (untuk penampang segi empat dan traphesium) atau diameter/jari-jari (untuk penampang (lingkaran, setengah lingkaran, elips dan parabolic). Dasar penentuan dimensi saluran didasarkan pada rencana (estimasi) debit air yang akan melewati saluran tersebut.
2) Debit air
Debit air didefinisikan sebagai volume air (m3) yang melewati titik per satuan waktu (detik). Dalam persamaan matematis debit air ditunjukkan dengan;

Q=α.β.I.A

α adalah koefisien aliran, β merupakan koefisien penyebaran hujan, I adalah intensitas hujan dan A adalah luas area. Sehingga dari persamaan tersebut dapat diartikan bahwa debit air sama dengan koefisien aliran yang dipengaruhi oleh faktor lain yakni koefisien penyebaran hujan, intensitas hujan dan luas area yang akan dikeringkan.
3. Intensitas hujan
Intensitas hujan merupakan jumlah hujan yang dinyatakan dalam curah hujan persatuan waktu. Artianya besar kecilnya intensitas hujan ditentukan oleh besarnya kecilnya curah serta lama sebentarnya hujan tersebut. Intensitas besar manakala curah hujan besar atau waktu hujannya lama atau keduanya.

Sebagimana judulnya, post ini merupakan materi pengantar dalam mata kuliah Sistem Drainase, secara detail terkait tahapan perhitungan, faktor-faktor lain yang dipertimbangkan dalam perencanaan dapat dilihat dalam buku-buku terkait sistem drainase, drainase jalan raya ataupun drainase perkotaan.

Terima kasih!

Maafkan Saya Pak Ustadz

screenshot_2016-09-05-12-57-58-1

Tadi pagi sebelum Jumatan, melalui dinding facebook tak sengaja membaca surat terbuka seorang ustadz berisi tentang ucapan terima kasihnya kepada pak Ahok yang telah mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan kontroversi serta munculnya gerakan massa yang luar biasa pada hari ini (4/11) juga satu minggu yang lalu. Semenjak munculnya video kontoversi itu, baru hari ini saya menyimak sebuah bentuk komunikasi ke publik yang agak beda dari orang-orang yang punya maksud sama yaitu ajakan penolakan terhadap sosok seorang Ahok.

Saya benar-benar salut, kagum dan mengapresiasi gaya komunikasi penolakan yang model begini ini. Bahasa yang santun dan lembut betul-betul memberi warna lain dari biasanya. Warna yang biasa ditunjukkan dari pemuka-pemuka agama sekaliber ustadz Yusuf Mansur dengan modal gaya sedihnya (maaf), ataupun ustadz Arifin Ilham dengan suara seraknya, Aa Gim dengan nada suara dalamnya yang khas, bahkan lebih menarik dari gaya komunikasi yang ditunjukkan oleh seorang mantan presiden SBY sekalipun, meskipun saya juga paham maksud pak Ustadz kali ini tidaklah begitu jauh beda dengan tujuan mereka-meraka itu.

Kami yakin sepenuhnya bahwa saudara yang baik bukan yang melulu mengiyakan apa yang dikatakan saudaranya. Saudara yang benar-benar saudara adalah ia yang menunjukkan atau mengingatkan pada kebenaran, bukanlah ia yang selalu memberi pembenaran meskipun saudaranya dalam posisi keliru. Oleh karena itu, terlepas dari rasa kagum, rasa takjub yang tentu saja mudah dipicu akibat kedangangkalan saya yang awam, izinkan kami untuk sedikit memberi tanggapan yang mungkin dalam bentuk pernyataan juga pertanyaan terhadap tulisan pak Ustadz dalam surat terbuka tersebut. Sebab inilah bentuk kecintaan pada pak Ustadz, pada agama dan tentunya pada Allah SWT yang maha agung, yang mampu saya tunjukkan sampai detik ini.

Saya yakin pak Ustadz tentu sudah melihat dengan seksama video kontroversi itu. Namun, apakah pak ustadz sebagai seorang doktor, cendekiawan muslim, sudah melepaskan diri dari egosentris emosional bapak dan mengedepankan nalar dalam rangka melakukan proses klarifikasi, verifikasi, analisa mendalam terkait kebenaran utuh dari video tersebut? Tidakkah bapak membaca dan melihat dibeberapa media terkait pengakuan BY bahwa video sengaja dia buat tidaklah utuh lagi?

Seandainya pun video itu benar, bukankah Ahok sudah meminta maaf dan tidak ada maksud sedikit pun untuk menghina kitab suci kita. Lantas kenapa kemudian kita begitu benci dan menutup pintu maaf bagi dia, seolah-olah kita pernah diberi mandat oleh Tuhan untuk kemudian punya hak menghukum umat lain yang bersalah?Bukankah Allah SWT, Tuhan semesta alam saja masih mengampuni umatnya yang berdosa sebesar apapun dosa itu?

Pak Ustadz yang sangat saya hormati, tak ada maksud sedikit pun untuk mengajari ikan berenang, dalam hal ini menggurui bapak soal ilmu agama dan nilai-nilai universalnya. Tapi sungguh kami khawatir jangan-jangan bapak terbawa emosi yang dipendam dan mengabaikan nalar lalu kemudian ikut-ikutan menjadi kompor dengan sumbu pendek, sehingga menyulut emosi umat yang sepertinya kebanyakan tidaklah memiliki pemahaman Islam serta level kesabaran yang memadai sebagaimana pak ustadz.

Pak Ustadz, saya membaca seksama surat bapak, termasuk tanggapan pada mereka (muslim lain) yang pro Ahok dan tidak sejalan dengan pendapat mainstreem bapak. Saya begitu penasaran, apa dan bagaimana dasar berfikir pak Ustadz sehingga dengan mudah menjudge mereka-mereka itu munafik, lebih memilih membela Ahok dari pada agamanya? Terlepas dari bahasa surat pak ustadz yang menghanyutkan itu, hal yang mungkin bapak lupa kalau banyak dari pernyataan bapak dengan tanpa sadar membentuk kesan pada kami yang baca bahwa bapak seakan telah melampaui batas preoregatif Tuhan dan seenaknya mengklaim kebenaran bapak maupun golongan bapak sendiri dan yang lain itu salah.

Terkait dengan tanggapan pak Ustadz pada pernyataan Nusron Wahid yang menurut bapak seperti membentak, mengintimidasi (memelototi) bahkan terkesan jauh dari sopan santun kepada ulama yang lebih tua. Pak Ustadz, maaf! kami lagi-lagi tidak sepakat, memang memandangi lawan bicara dengan meletot apalagi dengan niatan mengintidasi, terhadap siapapun tidak bisa dibenarkan. Namun, sejauh kami sering melihat Nusron Wahid langsung maupun melalui TV,  dalam setiap berbicara, berargumentasi, gayanya dia, bentuknya dia memang seperti itulah adanya. Lantas apakah benar kalau kemudian kita seolah lebih tau maksud atau niatan daripada Nusron sendiri?

Saya dan banyak yang lain pembaca surat bapak yang notabene adalah seorang doktor ilmu agama lulusan luar negeri, tentu mengharapkan ilmu agama yang lebih dalam dari sekedar membawa kami untuk membandingkan bapak dengan Nusron, dengan misalnya bapak mengatakan bahwa argumentasi-argumentasi Nusron sangat lemah, tanpa bapak menawarkan kami argumen alternatif pembanding yang lebih kuat. Tak ada yang bisa kami petik dari surat terbuka itu, bapak tak sampai pada memberi kami ikan ataupun pancing sebagai bekal kami dalam pencarian kebenaran hakiki. Sungguh kami tak menemukan apa-apa kecuali ajakan melanggengkan kebencian dan kesombongan dalam rupanya yang lain.

Makassar, 4/11/2016 (23.00 wita)

(Sebagai tanggapan untuk surat terbuka Ustadz Agus Khoirul Huda kepa Ahok)

Untuk Dirimu

screenshot_2016-10-25-12-14-44-1
Iwan Fals (Gambar: Google.com)

Seorang bergaun panjang berjalan menghampiriku, dengan gaya dan bahasa yang khas, menanyakan jadwal kuliah, sebuah rutinitas yang baru saja kita awali lagi, sebagai manusia-manusia pencari ilmu yang tak pernah pede dangan apa yang kini diketahuinya. Di sana, kau berdiri tepat di hadapanku, sambil menatap matamu yang tajam,  ingin kupastikan merahnya mukamu sebagaimana merahnya almamater  yang kini telah kita lemarikan.

Selanjutnya, kutelusuri tanya demi tanya untuk sebuah nama yang mewakili sosokmu. **, sebuah nama dalam inisial yang kudapat dan tetap ingin kusimpan sendiri. Akronim dari dua penggal kata yang tak begitu panjang, sengaja kusingkat agar tetap terjaga keanggunannya, terjaga pada sebuah frase bertitel “rahasia”. #**, sudah cukup lama rasanya, singkatan dengan tanda pagar itu tersimpan rapi dalam catatan personal smartphoneku. Namun begitulah, tak ada sesuatu pun hadir tanpa alasan. Akronim bertagar itu sepertinya adalah tanda, bahwa nama di balik dua huruf itu selalu setia di benak, selalu ada menyertai fikiran dan hati. Mungkin saja, ini tak lain ada wujud akan sebuah rasa yang sampai saat ini tak berani kuberi makna.

Tak terasa hari pun berlalu, seperti biasa kau datang ke kampus dengan wajah penuh senyum sumringah pertanda semangat. Entah apa yang coba kau tunjukkan dari mimik wajahmu, selain cerita tentang perjalananmu melintasi dua propinsi tiap minggu, selain tentang usaha dan perjuanganmu mengumpulkan nominal demi nominal untuk membiayai kuliahmu yang menurutku tidaklah mudah.

Masih tetap saja samar, saya lagi-lagi tidak mampu menemukan jawaban utuh tentangmu. Terbuat dari apakah sebenarnya sosok tangguhmu itu? Apakah kau memang selalu piawai untuk lolos dari berbagai persoalan, sehingga tak tampak sisa-sisa masalah diroman wajahmu? Atau jangan-jangan yang kau tunjukkan hanya senyum yang memalsukan kegundahanmu? Yah, yang tampak hanya senyum, senyum yg tidak ada seorangpun tahu apakah kau sedih atau bahagia. “Hmmm..**, what’s behind your smile?…Akh..kau sungguh luar biasa perempuan muda!”

****

Kini kau muncul lagi, tak begitu jelas apa maksud Tuhan akan semuanya itu. Kau dengan seenaknya saja datang dan pergi seperti pesawat tempur dalam lagu bang Iwan Fals yang sangat kau gandrungi itu. Kau hadir tiba-tiba dan kemudian menghilang entah ke mana, seperti sebuah misteri yang datang pada sepenggal kisah kehidupan yang tak pernah bisa ditebak akhirnya.

Tapi sahabatku, pada akhirnya kita pun harus merelakan sepenggal cerita itu jadi masa lalu. Kita telah mengakhirinya dengan elegan, tanpa benci dan dendam, walaupun harus kuakui bahwa sejujurnya itu tetap saja meninggalkan sesak yang teramat dalam. Tapi, anggaplah itu sebutir pil semangat untuk melanjutkan perjuangan, demi sebuah masa depan yang semoga saja akan lebih baik.

“Sahabat”, kayaknya kata itulah yang paling cocok untuk kita saat ini. Maafkan atas semua yang dulu yang tentunya banyak tidak mengenakkannya. Marilah berdamai dengan semua rasa, apapun itu. Teruslah berjalan, walau kita tidak lagi pada arah yang sama, barangkali saja jalan itu tidak selurus yang kita harap, sehingga kemudian dapat mempertemukan kita di ujung sana, yang walau itu rasanya sangat tidak mungkin.

Untuk itu, “janganki lupa bahagia!, santai mki saja, duniaji ini” (Tumming & Abu, 2016) 😊

Sekian!!

Mks, 25 Oktober 2016

Ahdan

Menelanjangi Athirah #2

fb_img_1477206633446
Cover Film Athirah (Gambar: posfilm.com)

Zaman terus bergerak, situasi terus berubah, juga interaksi yang semakin terbuka di era teknologi informasi ini. Ide dan gagasan akan sesuatu hal pun akan kian mudah untuk dibagi. Era keterbukaan pulalah yang seakan memaksa kita untuk tak punya ruang lagi untuk berpura-pura menutup mata bahwa masalah penyimpangan sosial, persoalan perempuan ini kita anggap tak ada.

Diangkatnya kembali cerita tentang sosok Emma’ (Ibu) yang bernama Athirah sebagai seorang perempuan, sebagai Ibu yang relatif masih muda, tentu bukan tanpa maksud. Pesan terkait posisi kaum perempuan dalam peradaban umat tidak bisa disepelekan, hingga sangat penting dan amatlah menentukan alasan diangkatnya cerita biografi tersebut sebagai penghantar pesan yang paling efektif.

Untuk jadi bahan telaah, bagaimana misalnya dengan kemaha-kuasaanNya Tuhan kemudian “menempatkan” surga tidak di bawah telapak kaki para ulama, tidak juga di bawah kaki ayah (laki-laki), tidak di bawah kaki pemerintah atau malaikat sekalipun, tapi surga itu berada di bawah kaki kaum Ibu (baca: perempuan). Sehingga tak salah orang pun berani mengatakan bahwa, rusaknya kaum perempuan adalah awal runtuhnya peradaban umat manusia.

Namun, membayangkan era keterbukaan informasi dan komunikasi ada pada zamannya Ibu Athirah, mungkin saja beliau dan juga Ucu tak galau sendirian waktu itu. Kalau saya mungkin juga anda boleh sedikit berfikir liar, apakah Athirah akan setangguh itu untuk bertahan demi keutuhan rumah tangganya dan anak-anaknya jika diposisikan di tengah godaan informasi dari berbagai penjuru seperti sekarang ini, ditambah lagi dengan godaan banyak pria-pria yang gemar memanfaatkan keadaan? Akankah Athirah setegar itu untuk bertahan dan tidak terbuai mencari jalan pintas pelarian untuk menumpahkan rasa prustrasinya, atau dengan alasan cinta dan kenyamanan sebagaimana kita lihat pada perempuan-perempuan zaman sekarang apabila didera persoalan yang mirip bahkan lebih sepele?

Okelah, mari kita mencoba berprasangka baik, karena setiap orang ada zamannya, dan setiap zaman selalu memunculkan orang-orang teguh dan sehebat Ibu Athirah. Tak terkecuali kini, karena memang menjadi manusia tangguh, hebat, baik atau apapun konotasi positif maupun negatif yang sering kali kita labelkan adalah sebuah pilihan bukan karena keterpaksaan takdir atau berbekal alasan-alasan. Oleh sebab itulah, kata seorang Albert Camus (2009) bahwa “Cinta adalah pemberontakan, atau tidak sama sekali” sepertinya pas untuk kita camkan agar kita tidak seenaknya mencari pembenaran-pembenaran atas kesesatan kita berperilaku.

Ya, tentu tak bisa dipungkiri, inilah zaman modern yang dengan diam-diam sedang mendikte kita sebagai generasi pencinta masa kini. Tak bisa dinafikkan memang bahwa tantangan hidup semakin berat. Akan tetapi, atas dasar modernisasi itu pulalah yang seharusnya jadi support agar kita bisa membentuk karakter kekinian kita untuk lebih tangguh melebihi Athirah. Era keterbukaan akses informasi seperti sekarang, setidaknya mampu menjadikan kita manusia-manusia yang kaya bekal kematangan hidup untuk kemudian paling tidak mampu bertoleransi atau sekedar berdamai dengan persoalan-persoalan hidup yang  dihadapi. Sehingga pada akhirnya tidak lagi gampang ditemukan ibu-ibu, calon ibu,  perempuan-perempuan Indonesia menjadi bahan kelakar kaum lelaki juga yang lebih parah menjadi materi gunjingan berita “miring” di media.

Maaf, sama sekali tak ada maksud untuk “menelanjangi” kaum perempuan kekinian pada tulisan ini, sehingga seolah mengumbar aib serta kebencian, atau seakan memukul rata bahwa semua perempuan kini sama saja seperti mereka yang kebetulan pernah kita temui atau mereka yang lagi sial dan kemudian jadi objek berita-berita miring di media itu. Juga tak ingin menggiring perempuan masa kini untuk berfikir mundur, lari dari jati dirinya, tidak jujur apa adanya pada apa yang mereka mau dan menjadi orang lain seperti Athirah yang seutuhnya.

Sungguh tidak ada maksud lain mengangkat topik ini kepermukaan selain merupakan bentuk kegelisahan dan kekhawatiran melihat fenomena sosial yang ada. Bahkan beberapa kalangan dengan tegas menganggap fenomena “gejolak anak muda yang belum dewasa” tak lagi mengenal usia dan strata sosial. Dari itu semua, mungkin ini adalah sekadar bentuk kerinduan sebagian kaum Adam seperti penulis, pada nilai-nilai luhur kearifan lokal yang dipegang teguh oleh sesosok perempuan seperti Ibu Athirah yang kini mulai hilang terkikis zaman.

Sekian!